Siapa yang tidak tahu dan kenal puisi “Aku” karya penyair Chairil Anwar yang selalu menjadi pilihan utama para pecinta sastra, penyuka puisi bahkan yang tidak mengerti puisi. Puisi tersebut benar-benar menjadi puisi yang tidak hanya fenominal di kalangan tertentu. Ketika ada lomba dan kompetisi budaya bagi anak-anak sekolah maka puisi tersebut selalu menjadi pilihan utama dan selalu dibahas di berbagai diskusi dan acara sastra lainnya. Begitu juga dengan Sitor Situmorang, penyair dengan satu sajaknya berhasil membuat para kritikus dan sastrawan berdebat dalam waktu dan tempat yang berbeda, bahkan sampai saat ini puisi tersebut masih menjadi bahan perdebatan. Puisi tersebut adalah “Malam Lebaran.” Dua penyair yang lahir dari kota yang sama, yitu Medan namun, memiliki sejarah dan perjalanan berbeda.

Siang itu (22/03) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat adalah penutupan pesta sastra yang dihadiri oleh tidak kurang dari 20 negara. Acara tersebut bernama Asean Literary Festival 2015 yang dimeriahkan oleh berbagai kegiatan sekitar seni dan sastra dari berbagai negara. Pada siang itu adalah penutupan acara yang juga dimeriahkan oleh berbagai acara seni dan sastra juga bazar buku dari beberapa penerbit.

Ziarah Chairil Anwar dan Sitor Situmorang adalah salah satu tema diskusi siang itu di panggung depan gedung Teater Jakarta. Pada diskusi tersebut dihadiri oleh Joko Pinurbo (penyair yang dikenal dengan “Celana”-nya) dan Hasan Aspahani (penulis buku perjalanan hidup Chairil Anwar yang masih dirahasiakan judulnya, kata hati saya; sialan!). Mereka berdua menyajikan suatu pembahasan mengenai kepingan perjalanan hidup dua orang penyair yang lahir pada zaman yang sama dan dari kota yang sama pula namun, melahirkan karya yang berbeda. Hasan Aspahani mengupas tuntas tentang perjalanan Chairil Anwar yang jarang diketahui oleh pembaca dan penikmat sastra. Ia memaparkan bagaimana Chairil dalam perjalanan hidupnya yang getir dan gentar juga penuh dengan tantangan baik perempuan dan perjuangan pada waktu itu. Ada satu yang sangat menarik yang belum diungkap oleh sejarah mengenai puisinya yang ia sebut puisi revolusi (kata dia revolusi banget), yaitu Karawang Bekasi. Puisi itu ditulis oleh Chairil waktu itu ia benar-benar ada di lokasi gerilya dan puisi tersebut dibaca oleh Chairil dan beberapa orang di depan para pejuang revolusi dan berhasil membangkitkan jiwa para revolusioner pada waktu itu.

Joko Pinurbo memaparkan sisi yang berbeda mengenai Chairil dan Sitor. Ia mengatakan banyak keinginan Chairil yang sampai saat ini belum tercapai. Berbeda dengan Sitor, menurutnya Sitor memiliki keinginan yang sudah tercapai salah satunya adalah ia ingin dimakamkan di sebelah kuburan ibunya ketika meninggal. Hal tersebut ia tulis di salah satu puisinya yang berjudul Tatahan Pesan Bunda namun, Chairil tidak demikian. Ia mengatakan bahwa Chairil adalah orang yang terlalu berambisi dalam masalah perempuan hingga akhirnya ia dikalahkan oleh perempuan. Di sisi lain ia mengatakan bahwa Chairil adalah manusia otonum dengan sajak-sajaknya yang hingga kini belum ada yang mampu menyamakannya. Dan satu lagi, Jokpin (panggilan akrab) berpesan pada kita bahwa kita harus menziarahi gagasan kedua penyair tersebut setiap waktu dan kesempatan. Jokpin juga memaparkan bahwa untuk menjadi penyair tidak harus meniru salah satu sifat Chairil yang disebut kleptoisme. Namun, gagasan-gagasan dan cara ia menulis dan mencipta juga cara lainnya yang berkaitan dengan sastra yang harus ditiru oleh pemuda saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here