Judul : 180
Penulis : Mohammed Cevy Abdullah & Noorca M. Massardi
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : I, Desember 2015
Tebal : vi + 312
ISBN : 978-602-8556-68-2

Tora “180”

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” (QS 13: 11). Petikan ayat ini menjadi landasan utama lahirnya sebuah karakter yang membuat manusia harus berpikir dan bekerja keras untuk meraih dan menentukan nasib sendiri dan tidak bergantung lagi pada keadaan atau lingkungan yang terdapat dalam hidupnya. Mengubah suatu keadaan yang disebut di atas adalah sesuatu yang dapat dijangkau oleh kemampuan manusia.

Pada novel “180” karya Mohammed Cevy Abdullah & Noorca M. Massardi ini, terdapat seorang tokoh yang berperan sebagai tokoh utama bernama Tora. Seorang pemuda yang dilahirkan oleh keluarga miskin di pedesaan dan menempuh dinamika hidup yang penuh warna. Tora, dalam hidupnya memiliki sebuah prinsip yang diyakininya, yaitu “peranan Tuhan berhenti sejak manusia dilahirkan ke dunia.”

Pernyataan di atas jika dibandingkan dengan petikan ayat pada pembuka tulisan ini, ada frekuensi dan korelasi yang sama dalam mengaplikasikannya ke dunia nyata. Jelas, bahwa kita menentukan nasib sendiri dalam menempuh terjalnya hidup yang penuh gelombang. Jika hidup hanya mengikuti arus yang hanya bergerak pada satu arah maka hidup ini akan kaku dan tidak ada tantangan. Dan itu tidak ada dalam pola pikir Tora yang terdapat dalam novel ini.

Sejak kecil, Tora sudah terbiasa hidup sederhana dan memiliki karakter yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Pada masa kecil, teman dekat, yaitu Bendol yang selalu diajak bermain dan sekaligus dijadikan “budak” selalu menjadi objek eksperimen sementara dan selalu berakhir dengan tawa dan ejekan sederhana. Pada masa ini, Tora kecil sudah mulai kehilangan karakter kekanak-kanakannya. Penulis di sini memasukkan karakter orang dewasa ke dalam tokoh anak-anak yang masih sangat muda, yaitu Tora dan Bendol. Tora dan Bendol pada saat usia sekolah dasar tetapi bahasa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa remaja atau orang dewasa, yaitu gue, elu. Jika melihat latar cerita pada bab ini, yaitu latar pedesaan yang terdapat di salah satu kabupaten di Jawa Barat dan warga di sana adalah mayoritas bersuku Sunda, maka akan berbalik dengan bahasa yang dipakai oleh Tora dan Bendol yang kesehariannya bukan menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya. Jika kita berkunjung ke daerah Jawa Barat sekitar kota Bandung, kita akan menemukan masyarakatnya yang berdialog dengan bahasa daerahnya mulai anak-anak sampai orangtua. Dan itu menjadi bahasa utama pada setiap daerah.

Melihat sejarah ratusan tahun lalu, kita tahu bahwa sehebat apa pun manusia akan memiliki kelemahan yang dapat diluluhkan oleh dirinya mau pun oleh orang lain. Tora, dengan keyakinan dan prinsip yang dipegang teguh seakan-akan tidak percaya hal tersebut. Ia yakin bahwa yang dapat mengalahkan dirinya hanyalah yang menciptakannya. Akan tetapi, ia tidak sadar bahwa sebuah kekalahan tengah menunggu ketika ia mencoba mengajak dan merayu Citra, kekasih, mantan kekasih, juga istri rahasia kembali ke pangkuannya dengan alasan Prima (anak dari hasil pernikahan rahasia tersebut) melalui Bagas, saudara sepupunya. Ia tetap kukuh bahwa ia tidak kalah, tetapi kekalahan dapat kita lihat pada perasaan yang dideskripsikan secara singkat dalam  novel ini.

Kekuatan karakter Tora yang dibangun di dalam novel ini mudah dipahami dan ditebak karena penyajiannya disajikan secara lurus dan seakan tidak bermuara. Penyajian alur cerita, juga dideskripsikan secara singkat dan datar. Sesuatu yang menarik dalam alur cerita hanya menjadi hiasan yang hanya sebentar muncul dan sebentar hilang.

Konflik yang dibangun pun dalam novel ini disajikan dengan singkat sehingga pembaca tidak merasakan adannya konflik yang benar-benar membuat pembaca ingin mengetahui lebih dalam. Seperti pada saat Tora mengalami kerugian besar akibat bencana hujan dan banjir bandang. Penyajian konflik pada bagian ini sama sekali tidak membuat pembaca menyelam pada sebuah peristiwa yang ditujukan oleh penulis karena penyajiannya yang terlalu singkat. Konflik lain dalam novel ini adalah ketika Tora mengalami musibah, yaitu terbunuhnya salah satu kerabatnya yang dibunuh di jalan. Pada bagian ini konflik yang disampaikan sama, datar-datar saja. Begitu pun pada konflik lainnya.

Jika kita melihat kembali pada alur dalam novel ini, maka akan banyak hal yang kita temukan mengenai Tora dan keyakinannya yang mampu membuatnya menjadi seorang Tora saat ini dalam novel tersebut. Mulai dari perubahan perilaku sampai tekadnya untuk menjadi seorang pengusaha sukses.

 

Kekurangan

Kekurangan yang terdapat dalam novel ini antara lain; terdapat beberapa bahasa daerah yang tidak diterjemahkan (tidak ada catatan kaki) ke dalam bahasa Indonesia, menyulitkan pembaca untuk memahami peristiwsa yang sebenarnya dalam kehadiran cerita ini. Pengalihan peristiwa yang dialami Tora terkadang meleset dari kejelian pembaca ketika menyampaikan penggalan atau khayalan Tora pada masa lampaunya.

 

Kelebihan

Novel ini memberi warna baru pada dunia kesusastraan Indonesia bahwa tidak semua novel harus disajikan dengan segudang kisah cintanya, tetapi dapat disampaikan dari beragam aspek kehidupan manusia yang kemudian dituangkan ke dalam karya sastra. Novel ini dapat dijadikan referensi inspiratif dalam membangun sebuah karakter dalam menempuh dan meraih keinginan besara dalam hidup kita.

Jakarta, 030116
@MH_Kholis
@mhkholis

SHARE
Previous articleKaleidoskop Rindu
Next articleBerlayar dalam Mimpi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here