Membaca puisi seperti menyeberangi sebuah jembatan gantung yang begitu panjang pada ketinggian yang lumayan tinggi. Sang pembaca akan dipenuhi perasaan yang berbeda, mulai dari ragu, khawatir, cemas, deg-degan, bahkan membawa sang pembaca pada puncak emosi yang kadang tidak disangka. Puisi membuat sang pembaca terbuai oleh keindahannya, tergetar oleh daya magisnya, dan tergerus oleh emosi yang terdapat di dalamnya. Itulah puisi. Setiap puisi selalu punya cara yang tidak pernah bisa diduga oleh siapa pun yang hendak membacanya.

Namun, bagaimana jika puisi yang dibaca tidak hanya satu, dan tidak hanya ditulis oleh seorang penulis dalam satu buku. Mungkin tidak hanya seperti jembatan gantung yang begitu panjang dan tinggi, tetapi seperti lautan lepas yang ombak dan arah anginnya tidak bisa diterka. Itulah yang saya rasakan ketika membaca Rumah Ingatan, kumpulan puisi yang ditulis oleh Anggota Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Rumah Ingatan tidak seperti rumah yang biasa kita tempati dan tinggal di dalamnya, namun rumah ini diisi dan dihuni oleh kata-kata yang begitu beragam, oleh keluh-kesah yang berbaur dengan bimbang, dan oleh rasa dan perasaan yang tak pernah padam.

Pertama, kata-kata yang terdapat di dalam Rumah Ingatan ini seperti halnya perantau yang selalu ingin merasakan hangatnya matahari lewat jendela rumahnya setiap tahun atau setiap waktu yang memberi kesempatan baginya. Kata-kata itu selalu ingin pulang, ingin merasakan teduhnya sebuah rumah, damainya sebuah suasana yang senantiasa ditemukan di rumah tersebut. Di dalam Rumah Ingatan, kata-kata itu seperti tahu bahwa tempat paling teduh adalah rumah. Penulis yang tergabung dalam buku ini seperti ingin memulangkan satu persatu kata-kata pada rumah yang berbeda, tapi pada akhirnya pada rumah yang sama.

Rumah-rumah yang digambarkan oleh penulis-penulis dalam kumpulan puisi ini tidak sekadar rumah yang menjadi tempat bertemunya sebuah rindu, sendu, syahdu, dan lainnya, tapi rumah itu seperti rumah yang di dalamnya penuh dengan rentetan peristiwa yang beragam dan punya kamar masing-masing. Lalu, penulis-penulis ini membawa kata-kata itu pada kamarnya masing-masing dan berdialog di sana.

Kedua, keluh kesah yang berbaur dengan bimbang di dalam Rumah Ingatan ini seperti sebuah dinding kukuh yang perlahan retak, tapi selalu mampu memperbaiki keretakan itu. Dinding itu seperti berselisih dengan retak-retak yang tiap kali datang dengan rasa dan perasaan bimbang, lalu diperbaiki dengan kata-kata yang senantiasa diam dan setia pada dinding itu.

Ketiga, rasa dan perasaan yang tak pernah padam digambarkan dalam beberapa puisi di dalam buku ini. Ada dua kemungkinan yang membuat para penulis menghiasi dinding Rumah Ingatan ini dengan hal tersebut, yaitu; beberapa penulis adalah penulis yang masih muda dan berjiwa muda, dan penulis lainnya juga ingin mengabadikan rasa dan perasaan di sebuah rumah yang akan selalu diingat dan akan selalu menjadi tempat pulang. Dari dua kemungkinan inilah penulis-penulis perlu mengekalkan beragam rasa dan perasaan yang tak pernah padam, entah rasa dan perasaan pada kekasih, pada alam, dan pada penulis sendiri.

Itulah Rumah Ingatan yang tidak sekadar rumah yang di dalamnya hanya berdiam dinding kukuh atau lemari berjejer yang hanya ditumpuki buku dan lainnya. Tapi, rumah ini selalu mengajak kata-kata pulang dari perantauannya, meski bekal yang dimiliki belum cukup. Sebab, rumah ini selalu rindu pada kehangatan dan keteduhan kata-kata itu.

Kelebihan dan kekurangan dalam Rumah Ingatan ini tidak dapat saya susun menjadi sebuah kalimat apalagi paragraf, sebab rumah ini begitu lengkap. Jendela dan pintunya tidak terbuat dari kayu jati dan semacamnya, tetapi oleh kata-kata yang tidak akan pernah lapuk oleh waktu. Tidak akan pernah tua oleh usia. Dan tidak akan pernah reda oleh cinta.

 

Pamekasan, Madura, 090618

Judul : Rumah Ingatan
Penulis : Komunitas Ranggon Sastra
Penerbit : Pustaka Ranggon
Cetakan : I, Mei 2018
Tebal : 110
ISBN : 978-602-51515-5-2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here