Selama satu tahun (2016) Malam Puisi Komunitas Ranggon Sastra yang pernah menjadi rumah bagi puisi dan tempat mencari tumpukan kata yang berserakan bagi anggota Komunitas Ranggon Sastra (anggora) tidak pernah mengeluarkan laungannya. Entah karena kata-kata tidak pernah meronta pada puisi-puisi yang diam dan didiamkan oleh anggora tersebut atau puisi-puisi itu mencari rumah lain yang lebih teduh atau gersang akan kata-kata, tetapi mampu membawa dan membacanya.
Malam itu (04/02), sebuah lampu bergelantungan di antara galah yang (saya rasa) sepi dan kesepian. Ia pasrah dan memasrahkan diri pada sebuah lampu yang memaksanya menjadi tandu dan rela menggigil oleh angin yang desaunya seperti puisi dalam labirin sunyi. Begitu dingin, begitu menusuk. Di sekitarnya, pepohonan dan kebun tempat anggora latihan setiap Sabtu menjadi ladang utama bagi pendar lampu yang menggantung pada galah tersebut.

img20170204210532
Suasana Malam Puisi Komunitas Ranggon Sastra (02/17)

Pada malam itu juga, anggora kembali memecah sunyi di antara malam yang lengang dengan suara-suara gaduh seperti pecahan angin pada daun-daun di kebun itu. Dengan puisi. Dan beberapa puisi. Anggora tidak hanya mengajak malam berpesta kata, tetapi membuatnya menjadi gumpalan kata yang siap dilantangkan menjadi puisi. Puisi yang senantiasa menjadi candu bahkan memabukkan bagi siapa pun yang membacanya malam itu.
Hingga puisi menjadi relung malam, malam itu, anggora menemaninya dengan petikan gitar dan memanggil angin menjadi melodinya. Mereka pun pasrah pada sunyi yang semakin memaksa malam. Dan puisi-puisi kembali pada rengkah kata yang menunggu dilaungkan kembali.

img20170204211816
Salah seorang tetua KRS membaca puisi pada Malam Puisi KRS (02/17)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here