Kampung itu tiba-tiba geger oleh sebuah peristiwa pada suatu pagi yang begitu damai. Seorang gadis yang tak seorang pun tak mengenalnya tiba-tiba hilang setelah malam bersekutu dengan ringkih burung di pohon jati tepi sungai. Biru. Begitu orang-orang kampung mengenal dan memanggilnya. Sejak kecil ia diasuh oleh seorang ayah yang sangat mengasihinya. Ia tumbuh dan besar dengan sifatnya yang lemah lembut dan memiliki paras cantik dan anggun. Hingga suatu hari dan hari-hari lainnya yang tidak pernah ia tulis dalam mimpinya menjadi sebuah rentetan luka dan duka dalam hati dan tubuhnya.

***

            Birrul Waalidain, begitulah namaku. Semua orang memanggilku Biru. Nama yang begitu manis ketika matahari berkabung setiap pagi mengintainya. Aku hidup dan besar tanpa pernah merasakan sentuhan dan belaian seorang ibu. Ia meninggalkanku untuk selamanya sesaat setelah mataku melihat luasnya dunia. Itu cerita ayahku. Seorang ayah yang tak pernah sekalipun memarahi atau menegurku dengan suara yang keras atau sedikit keras. Ia selalu lembut dan ramah terhadapku. Setiap bercerita tentang mendiang ibu, selalu ada debur air mata yang tertahan dan tumpah sesaat ketika aku tidak melihat wajahnya. Ketika aku bertanya tentang ibu yang telah pergi, ia selalu berkata bahwa ibu pergi karena cintanya yang begitu besar padaku. Itulah sebabnya aku diberi nama Biru yang berarti lengkap berbakti pada kedua orang tua.

Suatu ketika saat senja membelah diri menjadi sore dan petang, saat itu usiaku sudah hampir dua windu, aku bertanya pada ayah tentang kesepian yang sengaja ia simpan dan sembunyikan di antara bilah matanya yang mulai sendu. Ia hanya mengeja beberapa jawaban yang begitu teguh dan tegar. “Biru, ayah sudah berjanji pada ibumu sewaktu masih bersama bahwa, ayah tidak akan mencari penggantinya sekalipun ia sudah tiada.” Itulah gubahan kata yang perlahan keluar dari lubuk hatinya yang gersang. Aku selalu melihat kegersangan itu. Semakin hari semakin gersang seakan padang pasir yang tidak pernah bersetubuh dengan hujan.

Sebenarnya, dalam hatiku tidak pernah terbersit untuk menggantikan ibu di ruang hati ayah, tetapi aku tidak ingin terus-menerus melihat tubuh itu menjadi ladang kegelisahan yang ditumbuhi rerumputan pilu. Walaupun sekujur matanya selalu berkata bahagia, tetapi tubuh dan dadanya selalu terguncang oleh sepi dan kesepian.

“Ayah, Biru ingin melihat ayah bahagia seperti ketika bersama ibu,” aku beranikan diri padanya pada suatu siang selepas ia pulang dari masjid. Namun, ia hanya diam dan memandangiku dengan senyap. Matanya seakan ingin tersenyum, tapi tertahan oleh denyarnya. “Nak, apa ayah harus menginkari janjiku pada ibumu, aku bahagia dengan kebahagiaan kamu.” Hanya itu. Yah, hanya itu jawabnya. Ia berlalu dan meletakkan kopiah hitam dan sajadahnya di dinding kamar yang selalu ia diami. “Ayah ke sawah dulu,” ujarnya setelah keluar dari kamar. “Biru ingin merasakan memanggil ibu di rumah ini, ayah.” Ia behenti lalu menoleh sejenak dan berlalu hingga hilang di ambang pintu.

***

            “Tok… tok… tok… tok…” suatu siang yang lengang aku dikagetkan oleh suara pintu yang diketuk dengan keras. Aneh. Biasanya ayah selalu mengetuk pintu dengan pelan dan perlahan. Siang itu tidak. Semakin lama ketukan itu semakin kencang dan berubah menjadi gedoran. Aku beranjak dari tidur siangku lalu membuka pintu yang sudah hampir lepas engselnya. Seorang lelaki dengan wajah muram dan nanar berdiri tegak di depan pintu rumahku. Aku tidak pernah melihat orang itu di kampungku atau di kampung terdekatku. Siapa gerangan lelaki ini. Tanya hatiku. Tiba-tiba mengetuk dan menggedor pintu rumahku.

“Benar ini rumah Anwar?” sebuah tanya dengan mata yang semakin nanar. Anwar adalah nama yang sejak kecil telah kupanggil ayah. Dan sejak kecil pula aku belum pernah melihat lelaki yang tengah berdiri di depanku di depan pintu rumahku. Bahkan aku tidak pernah melihat ia bersama ayah atau menemui ayah sepanjang hidupku di rumah atau di sawah atau di tempat lainnya. “Siapa bapak ini? Ada urusan apa dengan ayah saya?” bibirku gugup mengeluarkan beberapa kata itu. Sebab, ini pertama kalinya aku berhadapan dengan seorang yang berperangai sangar dan liar. Matanya menelanjangi tubuhku sejak aku membuka pintu dan berdiri di hadapannya. Seketika ia menelan ludah saat melihat wajahku yang polos dengan penuh berahi. Aku gugup dan dadaku meletup menjadi gumpalan rasa yang menggigil oleh nanar matanya. Ia terus-menerus menelanjangi tubuhku dengan matanya yang semakin liar.

“Katakan pada ayahmu, jika ingin menjadi seorang lelaki jantan jangan bersembunyi di balik paras anaknya yang cantik.” Gertaknya dengan tertahan. “Saya tidak mengerti maksud bapak.” Jawabku masih dengan rasa gugup dan takut. Aku menunduk perlahan. Aku tidak ingin wajahku menjadi lumatan matanya yang liar. “Heh! Ayahmu telah membuatku mengelurkan pusaka yang sudah lama tidak meminum darah. Kau tahu?! Ia sudah hampir setengah tahun tidak membayar mahar atas permintaannya sendiri.” Mahar? Mahar apakah yang dimaksud bapak tua yang liar ini. Mata dan wajahku terangkat dan menatap tajam lelaki itu. Dadaku bergemuruh dan jantungku seperti meletup-letup mendengar perkataan lelaki tadi. “Kamu pasti tidak percaya. Ucapanku ini benar adanya! Jika tidak percaya tanyakan nanti pada ayahmu yang menyembunyikan sifat serakah di balik kelembutan yang selalu diperlihatkan padamu.” Ia masih mengurai dan mengeluarkan kata yang begitu keras di hadapanku yang semakin bingung. “Ibumu meninggal bukan karena melahirkanmu, tapi karena dijadikan tumbal oleh ayahmu.” Ia memukul meja dan pergi dari hadapanku yang telah menetaskan air mata tanpa sengaja.

Aku merenungi beberapa kalimat ucapan bapak tua tadi. Benar atau tidak aku masih memikirkannya. Ibu meninggal karena dijadikan tumbal bukan karena kelahiranku, ah! Aku semakin bingung! Selama ini ayah tidak pernah sedikit pun menyinggung masalah ini, bahwa ayah telah lama berguru pada seorang dukun bernama Muharam. Dan tumbalnya adalah ibuku sendiri.

Aku meraung dalam dada. Berteriak pada waktu agar ayah segera pulang entah dari mana. Mataku sembab dan dadaku rengkah. Aku tidak tahu benar atau tidak yang aku alami beberapa detik lalu. Aku hanya merasakan dadaku semakin terjejali oleh estafet kata yang sangat baru di telingaku. Kata-kata itu jauh dan terlalu jauh dari perilaku dan sifat ayahku. Aku tahu ayahku seorang lelaki yang baik, setia pada janji dan pada dirinya juga pada istrinya, ibuku. Tapi jika benar perkataan lelaki tadi, ah! Apakah mungkin?! Apakah mungkin?! Itulah yang selalu muncul dari dadaku yang mulai letih. Hingga mataku mulai nanar aku melihat bayangan tubuh dari jauh yang sangat kukenal. Ia terseyum dan tertawa seperti biasa sebelum kakinya menyapa dan manyapu halaman rumah. Tetapi, aku tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya.

“Ayah. Ayah kenal dengan Pak Muharam di kampung lembah?” secepat kilat ayah memutar pandangannya padaku. Aku melihat rasa terkejut dan terkinjat pada mata dan wajahnya. Ia mencoba menyembunyikan semua yang telah aku lihat dan menghampiriku. “Biru, ayah tidak pernah mengenal nama itu. Di kampung lembah tidak ada nama itu.” Aku melihat getaran pada bibirnya ketika mengeluarkan dan menyusun kata-kata itu. “Bohong! Ayah bohong, kan?! Ayah telah menipu Biru selama ini.” Hanya itu yang sanggup keluar dari tenggorokanku yang mulai tersedak oleh kekesalan dan penyesalan. “Biru, dengarkan ayah dulu, ayah…” aku berlari ke kamar sebelum ayah menyelesaikan perkataannya. Ia berusaha mengetuk pintu dan bersuara dengan halus seperti biasanya, tetapi aku sudah tidak peduli. Aku menggertaknya, mengahrdiknya dari balik pintu kamarku hingga aku terjatuh dan mataku menjadi lautan yang tak pernah kuharapkan.

***

            Aku masih sedu-sedan dengan sisa kemarahan dan kegelesihan di kamarku sejak siang jelang sore tadi. Kulihat di luar sudah sepi dan ayah sudah beranjak entah ke sawah atau tempat lainnya. Aku sudah tidak peduli. Ia yang selama hidupku telah kuhormati sesuai namaku telah membuat celah yang kemudian menjadi genangan luka di dada. Aku terus-menerus menghardiknya hingga malam menenun sepi dan heningnya.

Aku memutuskan pergi dan hengkang dari rumah yang selama hidup menjadi lumbung dan lambung kenangan. Kenangan tentang ibu yang tak pernah kulihat wajah aslinya. Aku hanya melihat sebuah album foto yang disimpan ayah dan diberikannya padaku. Tapi aku akan membuagnya, sebab dalam foto itu selalu bersama ayah. Ayah yang membesarkanku dengan kasih sayang, namun di baliknya tersimpan bara napsu serakah yang tidak pernah kusadari. Atau aku merobeknya satu-persatu dan mengambil wajah ibu dalam foto itu. Ayah. Kau bukan lagi ayahku. Kau hanya kenangan yang akan aku gadaikan bahkan akan kujual pada waktu. Birlah kau hidup dengan waktu yang akan mengutuk dan menguburmu. Aku pergi dan aku hengkang dari rumahku sendiri tepat pada kokok ayam pertama. Aku berjalan gontai sembari membuang perlahan setiap kenangan di rumah itu. Biarlah kubuang atau kujual kenangan ini pada waktu.

***

            Kampung itu tiba-tiba geger. Biru, seorang gadis baik dan cantik tiba-tiba menghilang dari rumahnya begitu saja. Semua mencari dan menaruh kasih padanya yang telah pergi. Semua orang mengutuk peristiwa itu karena Biru adalah satu-satunya gadis yang paling baik di kampungnya. Kampung Sungai Lingga. Ketika tahu penyebab kepergiannya, mereka menghardik dan mengutuk Anwar, ayah Biru yang selama ini dianggapnya baik. Mereka mengadilinya dengan mengikatnya pada pohon jati di tepi sungai berhari-hari lamanya. Ada yang menyakini bahwa Biru bukan pergi dari rumah tetapi dijadikan tumbal selanjutnya setelah ibunya. Tetapi masyarakat kampung sudah terlanjur marah hingga tidak ada ampun bagi Anwar, yang telah membuatnya pergi dan hilang dari kampungnya.

Biru, gadis lugu, cantik dan baik telah membuang dan menjual segala kepahitan yang menjadi kenangan selama hidupnya. Ia memasrahkan diri pada waktu. Tanpa tujuan ia terus berjalan hingga kenangan itu benar-benar menjadi kenangan.

Jakarta, 101016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here