Sore ini aku kembali ke tempat yang pernah kusinggahi beberpa tahun lalu. Tempat aku bertemu dengan lelaki misterius bernama Randu. Seorang lelaki yang telah pernah membuatku menggenang pada resapan waktu dan air mata. Ia menjadi kejapan mata pada waktu itu. Menjadi benalu manis yang singgah dan lenyap ditelan sendunya malam. Itulah Randu. Lelaki yang memiliki ketajaman pada matanya dan membuatku jatuh pada tatapannya. Ah, itu beberapa tahun lalu. Ketika aku tengah bersenandung dengan luka. Tetapi tidak saat ini.
Randu, aku datang kembali. Dengan nama yang sama. Aku tetap Ara yang pernah kau dekap di bawah temaran lilin dan kerikil malam yang menusuk dengan dinginnya. Apakah kamu mendengar suaraku, Randu? Atau kamu sudah menjadi sebongkah rindu yang hanya berlalu bersama dengus waktu. Aku datang, Randu. Aku datang dengan segenap rasa yang bergemuruh. Barangkali kau mendengar dengus erang napasku. Atau kau sengaja melupakan malam yang pernah cemburu pada kita waktu itu.
Aku kembali duduk di bawah pohon rindang tempatku menatap senja beberapa tahun lalu. Sebuah tempat bersama teman-teman menghabiskan malam inaugurasi dengan euforia. Vila Botani, Bogor. Tempat yang menyambut semua tamunya dengan sejuknya udara dan alamnya yang elok. Beberapa jenis tanaman berjejer seakan sebuah lukisan yang bergambar roman dan elegi aku masih menatap senja yang semakin pudar. Malam menawarkan dinginnya lewat rongga kulitku yang terbungkus jaket tebal dan cukup hangat. Sedang beberapa temanku sedang asyik memetik melodi gitar dengan beberapa nada dan lagu sendu. Mereka menyambut malam dengan lagu yang berbeda.
Aku masih menikmati senja yang telah berubah. Ia semakin pudar dan diganti kerlap-kerlip lampu di antara bentangan sawah dan gunung di hadapanku. Berharap kejadian beberapa tahun lalu terjadi kembali. Walau aku tahu aku seperti bermimpi waktu itu, tetapi aku yakin, Randu ada. Sementara malam mulai membungkam gemerlapnya dengan beberapa suara sepi dan rongrongan hewan di antara semak-semak yang gulita. Aku masih menatapnya di bawah pohon itu. Menunggu Randu datang dan aku berbagi cerita padanya. Walaupun sudah ada yang menggenggam hatiku, namun aku masih ingin berbagi dengannya. “Randu, apakah kamu sudah lupa padaku?”
Gemercik air yang berada di kolam kecil sebelah pohon sesekali menjadi tabuhan sepi yang memudar. Suara jangkrik seperti sebuah lengkingan rasa yang berdenyar. Dan aku masih duduk dengan sepi dan setia. Lalu-lalang angin dengan desirnya menjadi hempasan napas yang beradu. Tanpa kusadari seseorang telah duduk di sebelahku. Aku tidak dapat menatap wajahnya dalam gemerlap malam. Aku menatapnya dengan lekat. Berharap ia adalah lelaki yang aku tunggu sedari senja tadi. Aku menyalakan lilin yang sengaja aku bawa. Sebab, waktu aku bersama Randu beberapa tahun lalu aku bermesra di antara temaram lilin yang setia. Namun, ketika lilin telah memecah cahayanya, seseorang itu telah berlalu entah ke mana. Aku yakin itu Randu. Ia datang untuk menemuiku dengan segala rindunya. Tetapi kenapa dia pergi, kenapa dia menghilang, apakah ia tidak tahu bahwa aku datang untuk menemuinya.
***
“Ara, kamu kenapa semalam?” aku bertanya pada Ara, kakasihku yang tengah kugenggam jemarinya dengan hangat. Sebab pagi telah menyihirnya dengan segala dingin yang membekukan. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya, “aku hanya lelah saja, sehingga aku seperti orang yang kebingungan,” lanjutnya. Aku menatap lekat matanya. Ada kelopak yang samar-samar berbinar di antara kedua matanya. Ia seperti ingin bercerita tetapi tidak ingin. Aku mengajaknya ke bawah pohon tempatnya duduk semalam sendirian.
“Ara, aku melihat kamu berbicara sendiri semalam. Di sini,” Ara menatapku dengan tajam. Seperti tidak percaya dengan ucapanku. Ia membenamkan separuh wajahnya di antara bias matahari yang semakin memerah. Aku mendekap pundaknya dengan rasa yang berdesir. Sebab aku tahu Ara adalah perempuan yang mudah rapuh. Dan ia kerap merajuk ketika aku memaksanya untuk menyeritakannya. Ara, seorang perempuan berkacamata dan bersuara sendu. Ia kerap berpuisi dengan nada yang selalu membuat aku ingin memeluknya saat ia membacanya.
“Johan, aku minta maaf,” hanya itu yang terucap dari bibirnya yang mungil. Aku mengerti. Ia tidak sedang ingin bercerita. Aku mendekap pundaknya dengan erat. Mesra sekali. “Ara, kamu tetap dengan keanehanmu yang tidak pernah bosan. Kamu tahu, aku selalu merasa ada ketika kamu menatapku dengan tajam matamu. Dan ketika kau berteriak saat membaca sajak di depanku dan di depan teman-teman kita,”
Sebuah pagi yang sumringah. Aku berjalan menggenggam jemari Ara menuju Vila bersama teman-teman. Mereka sudah berkemas akan pulang ke Jakarta. Aku dan Ara melakukan hal yang sama. Bersiap-bersiap pulang bersama teman-teman inaugurasi malam itu.
***
Tepat matahari sepertiga di atas kepala. Aku beranjak ke bawah pohon tempatku duduk kemarin sore. Aku masih ingin melihat Randu ada di sana. Dengan sinar matanya yang tajam yang menbuatku jatuh ke dalamnya. Aku tinggalkan Johan bersama yang lain di kamar. Aku ingin bertemu Randu. Lelaki sore yang menemaniku dalam luka yang pernah menyayatku, tapi aku tidak melihatnya. Pagi semakin menua. Aku masih setia bersama desiran angin di bawah pohon itu.
“Ara, kamu ngapain di sini lagi?” sebuah suara lembut berdenting di telingaku. Seperti suara Randu. Aku segera menoleh dan benar, ia adalah Randu. Lelaki yang aku tunggu dari kemarin sore. “Randu, kaukah itu, kamu tahu aku mengunggumu di sini?” aku membuka mata dengan perlahan sebab aku tidak berani menatapnya secara langsung. Ia menggenggam tanganku dan mendekapku dengan lembut. “Ara, ini aku, Johan, kamu kenapa, siapa yang kamu panggil dari tadi?” aku tersentak. Aku membuka mata dan melihatnya dengan segera. Yah, yang berdiri di depanku adalah Johan. Lelaki yang selalu ada dan mengerti pada semua kemauan dan kemanjaanku.
“Johan, maafkan aku. Lupakan semua yang kusebut barusan. Di dalam diriku hanya kamu,” aku mendekap tubuh Johan yang berdiri di depanku. Ia perlahan membelai kepalaku dengan lembut. Aku tahu. Ia pasti akan marah tetapi tidak akan marah. Ia adalah lelaki yang selalu mengerti dan selalu memberiku ruang ketika aku merajuk.
“Randu, aku tidak akan memanggilmu lagi, sebab sudah ada Johan di dadaku,” ucapku lirih di hati. Aku kembali pada teman-teman yang telah menunggu kami. Sejenak sebelum pergi meninggalkan vila itu, aku menoleh ke bawah pohon rindang tempatku duduk semalam. Dan, ada Randu di sana. Ia tersenyum dan seakan ingin mengatakan sesuatu padaku. Ia melambaikan tangan. Matanya tetap seperti dulu. Tetap tajam. Aku mau berteriak tetapi tertahan. Randu menaruh telunjuknya di bibirnya seakan memberi isyarat agar aku tidak memanggilnya. “Randu, kamu benar-benar mendengar suaraku.”

Jakarta, 070315

SHARE
Previous articletembang E dan S
Next articleMembaca Rendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here