From the Blog

Kita Satu Gerbong

Kita Satu Gerbong

Aku masih ingat hujan sore itu. Saat aku bersandar pada dinding di tepi kolam renang. Jendela-jendela itu bisu. Ia sama sekali tidak menghiraukan mesranya hujan dengan mataku. Kabut yang liar mulai menjamah redupnya sore. Aku melihat burung senja mulai beterbangan seaakan ada pemandunya. Dan di antara rebahnya hujan yang mulai kering aku beranjak pada sebuah […]

Lelaki Sore

Lelaki itu bernama Randu. Ia menyapaku di antara sore yang hampir lelap ditelan malam yang gamang. Aku samar menatapnya sebab matahari mulai mengembara pada barat yang jauh. Ia hanya menyisakan beragam warna yang kusebut senja. Tak ubahnya panggung yang elok mataku tanpa mengedip menatapnya. Tepat di bawah pohon kecil daunnya semampai aku duduk menatap ragam […]

Menulis Rindu

Kepada Ibu, Bila pagimu adalah embun Menjadilah kering oleh matamu Dan menulis waktu Yang samar di hariku Adalah malam yang selalu redup Ia mejadi danau Yang rimbun oleh doa Ibu, Aku menulis awan Yang sedang melamun Di bawah alismu Menjadi rindu yang berdenting Dan berdesir Di antara debar langit Aku menulis pagi Yang sedang menapak […]

sementara desember masih hujan

tentang hujan yang mengering. oleh rindu yang semakin kemarau. di matamu. tentang kamu. yang menjadi parau di antara biru laut. dan aku menjadi tepi yang menunggu. bersama sepi yang berdesir. pada angin yang mereguk. rindu. Jakarta, 191214

pagi dan matamu

matamu yang gerimis adalah pagi yang rebah di tepi lelapku yang menjadi embun aku menjadi hujan dan gerimis di antara Desember yang kau sebut lagu Jakarta, 161214

aku Desember

aku yang lahir dari beragam musim menjadi terjal di antara pekatnya rasa dan menenun rindu yang menjadi embun di lubuknya aku yang lahir kembali dari matamu yang purnama menjadi hujan dan menjadi gerimis yang berteduh di bawah dagumu Jakarta, 151214

adalah rindu

adalah matahari yang merayu angin. ia mengajaknya menjadi beku. dan menggumpal dalam desaunya. kau tahu, dinda? aku menjadi terjal dalam bekunya. dan kamu menjadi rindu dalam teriknya. Jakarta, 111214

menyeduh rindu baru: di sini!

selamat menambang imaji di bagian deru, desau, dan desah tulisanku. aku akan menjadi kerikil yang lembut. dan menjadi tebing yang landai. dalam beberapa rindu yang kuramu. biarlah kamu yang menyeka lelahku. dan aku memdekap bayangmu. di bawah rentan matahari yang terik.