Gunung Dempo, Pagar Alam Sumsel (ruangingatan)

Pagi itu, nasi uduk di pinggir jalan (entah jalan apa namanya) sangat menggoda. Saya dan beberapa teman akan melakukan perjalanan jauh dari Palembang ke Pagar Alam melalui jalur darat. Perkiraan perjalanan waktu itu akan menempuh kurang lebih enam jam, tapi rentetan peristiwa yang kami alami selama perjalanan membuat perjalanan kami lebih lama dari biasanya.

Sebelum matahari benar-benar terik, kami melanjutkan perjalanan menuju Pagar Alam dengan kecepatan yang membuat jantung kami agak deg-degan karena yang mengemudi merupakan teman kami yang sudah sangat sering melintas antara Palembang-Pagar Alam.

Beberapa kali kami berhenti setiap menemukan keindahan dan keelokan alam sekitar perjalanan dan kami mengabadikannya dalam bidikan kamera masing-masing. Tak luput dari bidikan mata kami selain tahu Sumedang yang memiliki tempat luas layaknya tempat istirahat atau rest area, juga paras manis seorang pramusaji Restoran Sederhana Padang Sederhana di Muara Enim, tempat kami menghabiskan lelah pada pertengahan siang.

Bukit Jempol, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. (Dokpri)

Kami mengira, Pagar Alam yang dingin dan penuh pesona tak lama lagi akan kami singgahi. Sebelum sore benar-benar turun, kami lanjutkan perjalanan dan godaan Bukit Jempol atau Bukit Tunjuk di Lahat membuat kami harus berhenti untuk mengabadikannya.

 

Antara Mitos dan Pecahnya Tiga Ban

Sebelum petang, kami lanjutkan perjalanan melewati Lahat. Ini adalah kedua kalinya bagi saya lewat jalur darat dari Palembang ke Pagar Alam. Beberapa kilometer dari Lahat, kami mulai memasuki hutan rimba yang dipenuhi pepohonan rindang tanpa ada satu rumah penduduk. Jalanan yang berkelok dan menanjak membuat adrenalin kami semakin terpacu. Beberapa saat sebelum senja dan sebelum gerimis turun, kami harus berhenti di tengah hutan yang sepi dan sunyi. Mobil yang kami kendarai mengalami gangguan yang tidak bisa lagi dibawa menuju kota tujuan kami, yaitu Pagar Alam.

Sesaat setelah mobil mengalami gangguan dan tidak bisa dikendarai lagi. (Lahat, dokpri)

Kami pun turun dari mobil dan menikmati dinginnya hutan yang perlahan gelap. Semakin petang gerimis semakin deras mengguyur hutan tempat kami bingung dan kebingungan. Sekitar tiga jam kami menunggu bantuan, akhirnya datanglah mobil yang akan membantu perjalanan kami menuju Pagar Alam.

Gerimis di luar semakin deras, kami sudah melanjutkan perjalan dengan mobil yang baru saja datang untuk membantu. Namun, hanya beberapa menit perjalanan kami dari tempat sebelumnya, kami harus berhenti lagi, dan ini di tengah hutan yang sangat dan sangat gelap. Tiga ban mobil yang kami kendarai pecah secara bersamaan. Tak ada satu cahaya pun kecuali cahaya dari ponsel kami masing-masing dan lampu mobil.

Beragam prasangka baik kami karena waktu yang sudah malam dan gelap gulita. Kami menunggu dan mencoba memberhentikan beberapa mobil yang lewat, namun tidak ada atau enggan mau berhenti karena lokasinya sangat gelap. Akhirnya, malaikat penolong kami berupa mobil bak yang tengah membawa buah-buahan menuju Pagar Alam dengan sukarela membantu kami.

Malam semakin gelap, rintik hujan senantiasa setia menemani kami di atas mobil bak yang membawa kami menuju Pagar Alam. Kurang lebih satu setengah jam barulah kami tiba di tempat penginapan kami. Setelah kami hitung, perjalanan dari Palembang menuju Pagar Alam memakan waktu hampir sebelas jam. Kami tiba di Pagar Alam pukul sebelas malam. Betapa lelahnya…

Seketika kami langsung pulas setelah tiba di tempat penginapan.

 

(Ingin) Berburu Matahari Terbit di Bawah Gunung Dempo

Kami bangun untuk salat Subuh dan berencana menunggu matahari terbit di bawah gunung Dempo. Namun, itu hanya menjadi sebuah keiinginan karena kami masih lelah dan lelap lagi.

Kopi Robusta, Pagar Alam, Sumsel. (dokpri)

Pagar Alam yang elok menberi kami banyak kenangan dan juga rindu. Saya menyempatkan menikmati kopi Pagar Alam di warung kopi milik sahabat saya di kebuh teh di bawah gunung Dempo.

Kami menikmati gerimis hingga sore di warung kopi itu.

Pagar Alam, akan ada cerita lagi setelah cerita ini…..

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here