Bincang Karya Nh. Dini

Nh. Dini dalam Beberapa Ingatan. Setiap orang yang pergi akan selalu meninggalkan jejak. Sekecil apapun jejak itu akan dikenang dengan beragam tafsir dan beragam arti. Meski hanya sebatas kenangan, jejak itu akan selalu diingat, dalam ingatan, dalam tulisan, atau hanya sekadar dalam lintasan pikiran, atau menjadi sebuah rujukan dalam beragam kepentingan. Jika peribahasa mengatakan “Gajah mati meninggalkan gading,” maka manusia meninggalkan beragam hal termasuk kenangan (lewat karyanya).

Kenangan itu berupa ingatan yang tersimpan di berbagai tempat, temasuk di dalam buku, yaitu karya. Imam Ghazali pernah mengatakan, jika kamu bukan anak seorang raja atau ulama besar, jadilah penulis. Barangkali aforisme itu yang dijadikan rujukan oleh sebagian penulis untuk mengabadikan kehidupannya. Tak hanya itu, Chairil Anwar dalam satu puisinya menulis “Mau hidup seribu tahun lagi,” sehingga sampai hari ini tidak ada yang tidak tahu dan kenal pada sang Binatang Jalang itu. Itulah menulis.

Membaca karya-karya pengarang yang sudah tiada, seperti menziarahi masa-masa hidupnya yang dialami dan diabadikan dalam karya-karyanya. Kita yang membaca tidak sekadar ingin tahu apa, siapa, dan bagaimana kisah atau cerita perjalanan hidup sang penulis pada masa hidupnya, bahkan pada masa sebelum melahirkan karya-karyanya. Maka, terjadilah diskusi antarpembaca, pengarang, dan lainnya.

Nh. Dini adalah salah seorang sastrawan, yang dikenal dengan cerpen-cerpennya menjadi salah satu tempat yang pernah saya ziarahi lewat karya-karyanya. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa ia juga pernah menulis puisi seperti yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono (SDD) pada sebuah diskusi sore di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (19/12/2018). SDD, selain mengatakan bahwa dia belum pernah membaca puisi yang ditulis Nh. Dini juga mengajak kami kembali pada masa-masa mudanya lewat karya Nh. Dini yang ia baca.

SDD juga mengatakan bahwa Nh. Dini merupakan penulis yang hidup pada beberapa masa, yaitu masa sebelum Indonesia menjadi Indonesia yang seutuhnya, masa menulis di kertas dan mesin tik, dan masa menulis di komputer. Dari masa-masa itulah Nh. Dini melahirkan karya-karya yang sampai saat ini menjadi salah satu bacaan sastra dalam semua kalangan.

Berbeda dengan SDD, Seno Gumira Ajidarma (SGA), menceritakan petemuan-pertemuannya dengan karya-karya Nh. Dini juga pertemuan dengan penlisnya yang ia sebut sebuah pertemuan yang tak biasa. SGA mengatakan bahwa karya-karya Nh. Dini memiliki bahasa yang berbeda dibandingkan dengan bahasa peulis-penulis perempuan lainnya. Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu adalah dua dari banyak penulis perempuan yang dikenal dengan bahasa-bahasa erotisnya, tapi keduanya memiliki perbedaan dalam menulis dan kita sebagai pembaca juga dapat menemukan perbedaan itu. “Ayu Utami menulis sedemikian rupa dalam bahasa erotisnya, itu karena pengalan langsung, dan pada Djenar adalah penindasan,” kata Seno.

Kita tidak cukup membaca satu karya dari seorang penulis jika benar-benar ingin berziarah pada kisah atau cerita yang dibawa oleh penulis itu dari kehidupannya. Nh. Dini telah pergi beberapa waktu yang lalu, tapi bukan berarti kita tidak bisa menjumpainya. Kita tetap bisa berdialog, bercengkerama dengannya lewat karya-karyanya. Itulah cara menjumpai seorang yang telah tiada tapi tetap ada.

Pada diskusi sore itu, juga hadir Intan Paramadhita salah seorang pengarang perempuan Indonesia yang juga menyampaikan ingatannya tentang pertemuannya dengan Nh. Dini. Ia juga berbicara tentang sastra dan perempuan yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar. Diskusi sore itu ditutup dengan ngopi bersama dan gerimis yang tak jadi turun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here