Bagi sebagian orang puisi menjadi sebuah lorong panjang yang tak berujung. Liuk, lekuk, dan kelok kata yang berjajar seakan jembatan terjal yang sulit diseberangi. Sedang larik dan bait seakan sungai panjang yang tak bertepi. Serasa sulit untuk melalui sebuah puisi yang kadang penuh gemuruh rasa dan musim di dalamnya. Puisi seakan menjadi labirin yang senantisasa menyesatkan bagi siapa pun yang lancang masuk dan berdiam di dalamnya.

Puisi juga menjadi sebuah peristiwa penting bagi sebagian orang. Ia menjadi penghubung antara manusia, waktu dan peristiwa tersebut sehingga puisi menjadi penting bagi setiap manusia. Bagi puisi sendiri waktu seakan jalan yang tak ubahnya rumah. Ia senantiasa menjadi tempat, ladang, dan juga tandu untuk menyemai kata-kata yang kelak dilahirkan sebagai puisi.

Selain waktu, manusia tak ubahnya langgam yang selalu ditaburi keresahan oleh puisi melalui kata-kata yang berdetak, berdesir, berderai, bahkan berdebar di antara petak-petak napas dan imajinya. Oleh karena itu, antara manusia, waktu dan peristiwa seringkali menjadi rumah keresahan yang abadi bagi setiap puisi yang hendak lahir ke dunia yang (barangkali) tak pernah menjadi imajinasinya.

Membaca “Magma” adalah membaca sebuah hubungan antara ketiga tersebut, yaitu manusia, waktu, dan peristiwa. Magma bukan sekadar lelehan kata yang membawa pembacanya harus merelakan rasa dan perasaannya meleleh oleh panasnya sebagian peristiwa yang terdapat di dalamnya. Waktu yang dilaungkan pun merupakan sebagian lelehan yang membuat pembaca (lagi-lagi) harus menuai sebagian perasaanya agar menyadari dirinya tentang keresahan alam yang ditampakkan oleh manusia.

Manusia dan peristiwa senantiasa menjalin hubungan yang kerap terbentur oleh sifat keterasingan diri sehingga hal-hal yang dekat dengan dirinya pun hanya menjadi sebuah alegori belaka. Di sinilah Magma menyadarkannya lewat lelehan panas kata-katanya bahwa manusia adalah makhluk yang harus dekat dengan diri, alam, dan waktu.

Magma adalah sekumpulan puisi yang ditulis oleh salah seorang penyair perempuan, Ratna Ayu Budhiarti. Melalui Magma-nya, Ratna ingin menyampaikan sebuah rasa, peristiwa, dan berbagai kemelut alam dan manusia yang seringkali lepas dan lesap oleh rasa acuh tak acuh manusianya. Selain itu, perempuan menjadi salah satu dinding peristiwa yang turut melengkapi keresahan diri manusia dalam merawat dan menjaga hubungan antara waktu dan peristiwa tersebut.

Ketika sampai di tengah-tengah Magma ini, pembaca harus benar-benar rela merasakan lelehan kata yang sengaja dibawa dan diciptakan oleh Ratna. Pembaca juga akan menemukan beragam rasa yang akan membawanya pada sebuah tempat yang penuh cerita. Cerita tentang rasa, perempuan, refleksi, dan peristiwa. Semua itu laksana jembatan panjang yang penuh ranjau halus tetapi sanggup meletupkan kata-kata yang mungkin tersimpan di dada pembaca yang kemudian akan lahir sebagai puisi.

Begitulah Magma membawa pembacanya berkeliling kemudian berlabuh pada beberapa kata yang menjadi pelabuhan sementara agar melanjutkan pada kata-kata lainnya. Kata-kata itu bukan hanya berbicara, tetapi merangkai dirinya menjadi kata-kata yang selalu menggerung dan menggerus segala peristiwa antara manusia dan waktu.

Bandung, 100317

Judul : Magma
Penulis : Ratna Ayu Budhiarti
Penerbit : Gambang Buku Budaya
Cetakan : I, Januari 2017
Tebal : xiii + 87
ISBN : 978-602-6776-38-9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here