Pada malam yang berbeda
Lewat telepon aku mendengarmu
Seperti sendu dan haru
Aku berderai
Pada rindu yang kau ucap

Engkau adalah lautku
Yang kutulis menjadi rindu
Dan aku adalah ombak
Yang selalu meronta pada buih doamu
Ibu,

Anakmu masih bandel
Sebab langit yang kutatap masih terlalu biru
Sedang aku selalu merangkak
Pada labirin waktu
Yang kadang mengekangku
Pada sajadah lupa

Ibu, aku selalu merayu
Merayu rindu yang pasrah
Sebab di sini
Aku tidak menemukan senyum
Yang kerap kau suguhkan

Ibu adalah waktu
Yang tak pernah habis kutulis
Dalam buih doa

Seperti kelopak bunga
Aku selalu melukismu, Ibu.
Pada mata air yang subur
Dan embun yang sejuk

Ibu, mencintaimu
Adalah napas yang menderu
Dalam detak nadiku
Sampai matahari pupus di mataku
Dan merindumu,
Adalah puisi yang selalu lahir
Dalam derap rasa dan jiwa

Bersyukur aku memilikimu, Ibu.

“Selamat Hari Ibu”

Jakarta, 221213

SHARE
Previous articleMatahari Ibu
Next articleMatahari Desember

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here