Lebaran adalah suatu momen yang di dalamnya terdapat bagian-bagian momen yang memiliki arti dan tradisi sendiri di berbagai tempat dan daerah. Pada momen itu selalu dijadikan sebagai momen berbagi dengan segala kesungguhan berbagi, baik dengan sesama, keluarga, tetangga, dan lainnya. Lebaran selalu menjadi hal yang sangat penting bagi setiap umat Islam di penjuru dunia.

Bagi masyarakat Madura, lebaran selalu menjadikan sebuah pemersatu antartradisi, budaya, dan hal lain yang berkaitan dengan berbagi antarsesama. Salah satu tradisi yang terdapat di Madura yang terjadi setiap lebaran adalah menyembelih atau memotong Sapi. Bagi masyarakat Madura yang tinggal di perkampungan (seperti di kampungku), menyembelih Sapi ini sudah menjadi tradisi yang telah turun-temurun, biasanya Sapi disembelih satu hari sebelum lebaran atau H-1. Sapi yang disembelih merupakan Sapi yang telah disepakti bersama oleh beberapa orang yang nanti akan menjadi pemilik daging Sapi yang akan dibagi rata sesuai kesepakatan.

Beberapa tahun lalu saat musim kemarau masih menjadi ajang pencarian penghasil utama bagi perekonomian masyarakat di kampung, yaitu tembakau sebagai penghasil ekonomi terbesar selain cabai pada musim hujan akan terlihat seberapa banyak mereka membeli daging Sapi pada saat lebaran. Pada masyarakat perkampungan yang telah memiliki tradisi menyembelih Sapi, ada sebuah tradisi yang dinamakan Matong (Matong ­atau Patong adalah sebuah istilah dalam bahasa Madura, memiliki arti membeli, namun hanya dipakai pada saat membeli daging Sapi yang disembelih untuk lebaran). Istilah Matong ini hanya berlaku bagi orang atau masyarakat yang telah mengadakan kesepakatan jauh sebelum lebaran tiba, biasanya dilakukan pada awal Ramadan.

Masyarakat di sini, di Desa Waru Timur, Kec. Waru, Pamekasan dan beberapa desa lainnya memiliki tradisi yang sama setiap lebaran, yaitu Matong daging Sapi. Pada saat tembakau menjadi tonggak utama dalam perekonomian masyarakat kampung, daging Sapi yang dipotong akan dibayar pascapanen pada musim tembakau nanti, namun saat ini kesepakatan itu sudah diubah dan berubah. Saat ini, daging yang di­-patong akan langsung dibayar setelah Sapi dipotong dan hendak dibawa pulang daging yang telah dibagi sesuai permintaan dan pemesanan juga kesepakatan. Pembagian daging tersebut dibagi secara rata, yaitu setiap patong-an terdiri atas semua daging sapi juga tulangnya.

Sapi yang dipotong pada H-1 lebaran adalah Sapi yang sehat dan memiliki postur tubuh yang bagus sehingga menghasilkan daging yang banyak juga harga yang sesuai bahkan bisa meraup keuntungan dari harga beli sebelum diputuskan untuk dipotong. Tradisi seperti ini hanya akan ditemukan di beberapa desa yang berada di kawasan Madura tepatnya pada masyarakat perkampungan. Pada hari penyembelihan, masyarakat setempat akan bergotong-royong, saling berbaur membantu proses pemotongan hingga selesai. Tradisi seperti ini selalu menjadi momen penting bagi masyarakat Madura yang tinggal di perkampungan, selain untuk merasakan kebersamaan antarwarga, juga menjadi pengingat bahwa Ramadan akan segera berlalu dan lebaran akan segera tiba.

 

Satai Lebaran

Lebaran selain menjadi momen bermaaf-maafan, bagi masyarakat Madura yang tinggal dan hidup di perkampungan memiliki momen lain yang telah mengakar dalam diri masyarakat tersebut. Selain me-matong daging Sapi dengan jumlah yang beragam, yaitu satu orang atau satu keluarga biasa me-matong sebanyak 5-10kg bahkan lebih. Dari daging yang telah di-patong tersebut akan disisihkan beberapa gram untuk dijadikan satai pada hari terakhir Ramadan atau H-1 lebaran.

 

Foto Lomba Blog Kompas 1
Aku saat mengipasi daging yang dipanggang menjadi satai (kiri), satai setelah matang dan bumbu kacang khas Madura (kanan). (foto dokpri).

Memanggang daging atau membuat satai pada hari terakhir bulan Ramadan adalah salah satu tradisi yang telah turun-temurun pada masyarakat Madura yang tinggal dan hidup di perkampungan. Masyarakat bahkan sering menyebut bahwa hari terakhir bulan Ramadan adalah hari satai atau hari untuk membuat satai. Hal seperti ini akan ditemukan pada setiap dapur warga yang menetap di perkampungan pada sore hari menjelang lebaran, di sana akan kita lihat warga yang tengah riang dengan tusuk dan daging yang siap menjadi satai.

Pada masa kecilku dulu, hari terakhir bulan Ramadan adalah hari yang selalu ditunggu dan dinanti bukan karena mau lebaran, tetapi karena akan menikmati hidangan satai yang hanya akan didapatkan pada hari itu. Sebab, tradisi makan satai ketika masa kecil hanya akan ditemukan dan dirasakan pada hari terakhir bulan Ramadan dan H-1 lebaran haji dengan suasana yang hampir sama. Tradisi membuat dan makan satai pada hari terakhir bulan Ramadan sampai saat ini masih dan selalu saya rasakan setiap pulang kampung atau mudik.

Masyarakat begitu gembira dan riang setiap hari terakhir bulan Ramadan ini karena akan merasakan suasana dan masakan yang jarang dirasakan selama Ramadan. Sampai saat ini, kegembiraan dan keriangan tersebut masih saya rasakan setiap mudik. Biasanya, satu sama lain saling berguyon dengan bertanya berapa banyak satai yang dibuat di rumahnya dan hal ini menjadi guyonan setiap menjelang lebaran di kampung. Saya selalu merasakan kegembiraan itu setiap menusuk daging hingga memanggangnya dan menghidangkan pada keluarga kecilku.

Rasa gembira dan bahagia selalu saya lihat pada wajah-wajah orang tua dan anak-anak kecil bahkan remaja pun pada hari pemotongan Sapi di kampungku ini. Mereka bersama membagikan sesuai dengan pesanan sebelumnya. Rasa bahagia itu masih sama seperti masa kecilku dulu pada wajah mereka dalam menyambut lebaran juga menyambut makanan atau satai, tanpa kecuali mereka yang pernah merantau ke daerah lain atau kota lain, mereka gembira seakan hanya merasakan satai setiap hari terakhir bulan Ramadan. Bagi mereka yang tidak pernah merantau, merasakan lezatnya satai hanya akan didapatkan dan dirasakan pada hari terakhir bulan Ramadan sebab hari-hari lainnya jarang atau sulit menemukan satai selain hari itu. Bagi saya sebagai anak rantau dan pulang kampung atau mudik setiap satu tahun sekali, merasakan satai sama seperti mereka yang tidak pernah merantau, sama-sama merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bersama keluarga dan masyarakat di kampung halaman.

Tradisi menyembelih Sapi dan me-matong daging Sapi juga membuatnya menjadi satai pada hari terakhir bulan Ramadan telah menjadi sebuah tradisi yang sangat kental dan kekal bagi masyarakat yang tinggal dan hidup di perkampungan. Potongan daging yang lekat dengan tusuknya seakan menandakan bahwa tradisi ini akan selalu melekat di hati masyakat Madura khususnya yang berada di perkampungan salah satunya kampung halamanku.

Mengekalkan tradisi dapat dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya adalah lewat lebaran yang terjadi dua kali dalam satu tahun. Seperti tradisi bersilaturahmi pada keluarga, tetangga, keluarga dekat dan jauh sekalipun adalah sebagian dari tradisi yang akan terus melekat di hati masyarakat Madura.

SHARE
Previous articlePerempuan Penjual Kenangan
Next articleDi Kota Tua

6 COMMENTS

    • hehehe, rasanya tradisi “Matong” ini cuma ada di Madura ya mas.
      yes, selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin. mudah-mudahan ga telat 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here