Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan

Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan. Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, sarung telah menjadi sebuah identitas yang selalu melekat pada kehidupan masyarakatnya.

Meski bertahun-tahun saya tinggal di luar kampung halaman, sarung tidak pernah sekalipun saya tinggalkan. Setiap pergi ke mana pun, di dalam ransel tetap terselip sarung di antara pakaian lainnya.

Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan 1
Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan (1).

Setiap pulang ke kampung halaman, celana dan segala macamnya (kecuali isinya, hehe) akan dilepas dan akan sangat jarang dipakai. Jarang sekali. Celana itu akan menggantung di tempatnya, atau dicuci dan setelah kering dilipat rapi dan disimpan di lemari tanpa disentuh layaknya masa lalu yang perlahan dilupakan dan ditinggal.

Celana bagi orang kampung seperti saya akan dipakai jika hendak bepergian ke luar kota, itupun jika bepergian ke tempat yang dianggap layak untuk memakai celana ke tempat tersebut. Jadi, selama bisa pakai sarung ke tempat yang akan dituju, maka celana akan tetap diabaikan.

Sarung juga menjadi identitas tersendiri bagi santri seperti saya. Sebagai seorang santri, ke mana pun sarung terus melekat meski tengah berburu senja sekalipun.

Selain menjadi ciri khas dan identitas tersendiri, memakai sarung bagi masyarakat kampung seperti saya sangatlah nyaman dan ramah, mudah bergerak dan cekatan dalam setiap langkah. Juga mudah dikenali oleh masyarakat setempat. Itulah sarung.

Sementara senja yang pernah saya buru dan tangkap dalam bidikan kamera lewat kibaran sarung pada suatu sore di Pelabuhan Pasean, Pamekasan, menjadi cerita tersendiri yang melekat pada gesekan ingatan lewat sarung itu.

Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan 2
Mengekalkan Senja di antara Sarung dan Pertemuan (2)

Suatu sore, usai reuni dengan teman-teman alumni Pondok Pesantren Banyunyar di Pelabuhan Pasongsongan, Sumenep pascalebaran lalu (Idulfitri 1440 H), saya dan beberapa teman alumni yang satu kampung menyempatkan diri mampir ke salah satu pelabuhan yang terdapat di pantai utara (pantura) Pulau Madura, yaitu Pelabuhan Pasean, Pamekasan.

Pelabuhan tersebut menjadi tempat muda mudi berncengkerama sembari mendengar dan menyaksikan debar dan debur ombak sore itu. Begitupun senja di pelabuhan itu menjadi salah satu tujuan untuk diabadikan termasuk oleh saya dan teman-teman sore itu. Tentu dengan sarung yang kami pakai, kami berburu senja dengan santai sembari menikmati sepoi angin dan riak ombak di pelabuhan itu.

Senja yang kami kekalkan layaknya kenangan yang kiang usang. Semakin sore senja itu semakin memamerkan percik warnanya yang semakin jingga di antara hamparan laut dan gagahnya para nelayan.

Kami masih menyaksikan dan mengekalkan senja itu lewat suara sunyi yang keluar dari gesakan antara sarung dan pertemuan dengan teman-teman sebelum senja itu.

Sarung yang kami pakai senantiasa memercikkan cerita yang selalu melekat di antara warna senja di pelabuhan sore itu. Kami pun beranjak pulang setelah senja itu kian redup dan perlahan parau ditelan malam dan melesat ke dalam sarung yang kami pakai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here