Membaca puisi-puisi yang terdapat di dua buku ini; Ballada Orang-orang Tercinta, dan Sajak-sajak Sepatu Tua seperti bertemu langsung dengan W.S. Rendra pada masa mudanya. Ia menulis beberapa kenyataan hidup, romantika, alam, dan kondisi sosial yang ia lihat di sekitar kehidupannya. Beberapa balada yang berliku ia gambarkan dengan literatur yang sangat apik. Saya seperti melihat mendiang membacakannya di atas panggung seperti masa mudanya yang penuh dengan jiwa yang menggebu.

Sajak-sajak di dalam buku ini tidak pernah bosan saya baca, baik di atas panggung atau di mana saja. Romantika bahasa yang terkandung di dalamnya membuat seorang yang membaca seketika bernostalgia dengan masa muda seorang penyair yang sangat digemari sajak-sajaknya hingga kini. Setiap berkumpul dengan beberapa teman di komunitas kami, sajak-sajak mendiang W.S. Rendra selalu dibaca dan dinyanyikan dengan petikan gitar. Pada malam puisi kami, sajak-sajak mendiang tidak pernah absen dari bacaan dan teriakan saya dan beberapa teman yang berkumpul. Selalu menjadi pilihan utama. Ketika ada yang baru datang untuk membaca puisi, yang pertama ditanyakan adalah sajak W.S. Rendra untuk dibaca.

Ada satu puisi yang selalu dibaca ketika kami berkumpul, baik di tepi jalan atau di suatu tempat, yaitu Kangen. Puisi ini sangat dihafal oleh kami sehingga selalu membacanya meski tidak dalam acara. Pada buku Sajak-sajak Sepatu Tua, ada satu puisi yang selalu saya baca ketika di sebuah acara, yaitu Masmur Mawar. Sebuah puisi yang begitu indah dan selalu dibaca oleh beberapa teman ketika saya tidak membacanya.

Jakarta, 120315

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here