Aku masih merasakan hadirnya sebuah nama yang ketika kusebut selalu mengingatkan pada bulan kelahiranku. Di sebuah stasiun kereta ia memberikan secarik kertas yang berisi nama dan bulan lahir yang sama. Dan ia pergi meninggalkan sebait puisi di bawah nama yang diberikan padaku. Desember. Sebuah nama yang sering menjadi diorama rasa bagi sebagian orang. Nama yang sering menjadi nyanyian penyair dan juga nyanyian penyuka hujan. Bahkan, 60 tahun lalu seorang sutradara terkemuka pernah membuat sebuah film yang diberi judul Kabut Desember. Betapa, Desember selalu menjadi sebuah nama yang estetik dan penuh makna juga peristiwa roman di dalamnya. Sampai Desember keenam ia masih setia dengan tulisan dan perasaan yang selalu ia jaga. Padaku. Entahlah. Sampai kapan perasaan itu akan kukuh di dadanya yang selalu terjal.

***

“Sudah dua tahun, ya kita memandang arah yang sama,” suatu sore dialog itu lahir dari bibirnya yang kelu. Aku memandang langit yang galau. Ditemani gugusan warna yang pudar. Ia menatap sejenak langit itu. Tanpa ia tahu aku memandangnya dengan dada risau. Aku tahu ia tidak merasakan apa yang kurasakan. Namun, ia tahu degup dadaku yang semakin mengerang ketika kelopak matanya nanar menatapku.

“Aku berharap, setiap Desember kita akan tetap melihat langit di sini,” perlahan aku mulai membuka dialog yang sejak langit melamun kami hanya diam. Sesekali ia membuka novel yang baru saja kuberikan untuknya. Ia hanya membalas dengan senyum yang selalu meruntuhkan deru napasku. Di bawah langit itu kami hanya sesekali bercerita tentang waktu yang telah kami lewati. Sebuah perjalanan yang tidak pernah menyentuh rasa. Sebuah masa yang hanya diisi dengan dialog mesra tanpa memahatnya menjadi sebuah relief cinta.

“Aku juga berharap begitu,” jawabnya sembari menghirup silir angin yang sendu. Ia bercerita tentang hari lahirnya yang hanya berbeda beberapa hari dengan hari lahirku. Sesekali aku menoleh pada wajahnya yang semakin sayu dalam ceritanya dan memberanikan diri menggenggam jemarinya. Ia menoleh lalu tersenyum.

Sore sudah semakin renta. Ia pamit untuk pulang dan aku hanya mengangguk mengiyakan kepergiannya. Aku pun beranjak meninggalkan sore yang setia merawat senja. Berjalan gontai ke rumahku yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat pertemuanku tadi.

***

Ekalaya. Sebuah nama yang selalu mengingatkanku pada seorang kesatria yang pandai memanah. Hanya saja ia tidak pernah mendapat tempat di mata kesatria lainnya. Namanya hilang begitu saja walau kelihaiannya dalam memanah hampir lebih sempurna dibandingkan dengan Arjuna. Seorang kesatria dari keluarga Pandawa yang mengaku dirinya satu-satunya pemanah terhebat di jagat ini.

Aku sangat menyukai namanya. Karakternya pun hampir sama dengan Ekalaya yang terdapat dalam tokoh wayang yang aku baca. Ia tidak pernah meminta untuk diakui setiap ia membuat sebuah karya. Ia pun gigih berlatih tanpa harus ada yang mengajari atau membimbingnya. Aku seakan melihat jiwa Ekalaya terdapat di dalam jiwanya. Sikapnya yang ramah juga lemah lembut membuatku yakin bahwa ada jiwanya di dalam jiwannya.

Ekalaya. Aku menulisnya di dalam sebuah bingkai yang penuh dengan bunga. Meletakkan namanya pada setiap puisi yang kutulis. Diam-diam aku mulai merasakan debar di dalam rongga dadaku. Tidak. Aku seorang perempuan. Tidak boleh menanam perasaan terlebih dahulu. Tetapi, sebuah kisah di dalam sebuah novel mengingatkanku pada seorang perempuan yang secara terang-terangan menyatakan perasaan pada seorang pangeran yang ditemuinya. Begitu pun dengan Zulaikha, yang jelas terang-terangan menyatakan dirinya suka dan menggoda dengan bahasa Ibraninya pada Yusuf, yaitu: “Haita Lak”. Lalu, apakah aku akan menjadi seorang perempuan seperti dalam novel tersebut atau menjadi Zulaikha dalam histori cintanya pada Yusuf. Barangkali iya atau barangkali tidak.

***

Violetta. Namaku yang sering ia sebut sebagai nama yang puitis dan terdapat dalam sejarah. Ia juga sering berkata bahwa namaku adalah nama yang manis. Setiap menyebut namaku ia selalu teringat akan sebuah film yang pernah sekilas ditontonnya. Aku tidak pernah bertanya pada orang tuaku tentang namaku. Ia juga menyebutkan namaku adalah satu-satunya nama yang tidak pernah ditemui kecuali dalam sebuah film yang pernah sekilas ditontonnya. Ketika membaca namaku ia seakan membaca sebuah puisi yang dilanjutkan dengan bulan kelahiranku, juga hujan di bulan itu.

“Letta, sore ini ke tempat biasa,” suara itu menyelinap lewat gendang telingaku di tengah riuh angin di depan gedung tempat kami bersenda dan bergurau. Juga tempat kami mengenyam sebuah peradaban yang terkadang tidak kami dapatkan. Aku mengangguk. Dan ia menggenggam jemariku dan berjalan ke tempat biasa. Tempat yang selalu menjadi sebuah taman di tengah karut-marut kota yang semakin bising. Kami berjalan dalam diam. Sesekali ia bertanya apa yang aku dapat hari ini. Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan jawaban sahaja.

“Letta. Dua tahun kita bersama. Apa tidak sebaiknya kita satukan rasa menjadi sebuah cerita nyata. Tanpa harus menunggu alur ditulis oleh pengarang cerita tersebut, tapi kita yang menciptakan alurnya,” tiba-tiba ia berkata sedemikian intimnya dengan wajahku. Ia menatap mataku tanpa mengedip. Aku menunduk dan melihat ke arah yang kosong. Aku tidak tahu harus menjawab dengan kata yang sepadan atau sebaliknya. Di dadaku hanya ada gelombang yang semakin menggerung ketika aku mencoba menahannya. Eka menghela napas dan melihat langit yang bisu. Aku gelisah tanpa kusadari. Tetapi ia menyadari kegelisahanku.

“Aku tidak memintamu untuk menjawab iya atau tidak,” seketika ia menatap bongkahan kegelisahan yang membeku di mataku. Aku kembali menunduk. Di dadaku nama Ekalaya menjadi sebuah gurun yang semakin lama semakin gersang. Sedang aku mencoba menjadi oase tetapi selau tertimbun oleh abu yang beterbangan. “Eka, aku belum mampu menadah rasamu. Aku masih ingin berjalan di antara gersangnya dadamu tanpa harus menggengan rasamu,” suaraku perlahan dalam hati.

Eka. Kita hanya sebuah kisah yang beralur pada jejak-jejak matahari dan bulan. Aku tidak sanggup menjadi bagian dari alur cerita itu. Aku akui. Di dadaku namamu selalu menjadi gemuruh. Tetapi aku tidak ingin gemuruh itu retak oleh kegusaranku sendiri.

***

Sejak sore itu kami memutuskan untuk membuat cerita yang berbeda. Sebuah cerita yang tidak mengalur pada rasa antara aku dan Eka. Kami berjalan di antara cerita yang diciptakan oleh kami. Aku membuat cerita tentang samudera yang membasahi gersangnya dadaku. Entahlah. Aku tidak tahu cerita apa yang akan dibuat oleh Ekalaya. Dan kami berjanji akan bercerita setiap Desember tiba di sebuah tempat yang kami suka, yaitu stasiun. Aku tidak tahu alasan Eka memilih stasiun sebagai tempat untuk menceritakan cerita kami.

Suatu hari Eka berkata bahwa di stasiun ada banyak hal yang membuat sebuah cerita menjadi lebih dari cerita. Aku tidak paham dengan perkataan itu. Tetapi Eka memahami ketidakpahamanku. Di sana akan kita temukan sebuah alegori yang beragam, katanya. Jika kamu mau menulis di sana, akan ada banyak sesuatu yang akan membuat tulisanmu disukai banyak orang, katanya kembali. Aku hanya menikmati setiap yang ia katakan. Sampai Desember kelima kami masih setia dengan cerita yang kami buat dan menceritakan di tempat yang sama.

“Eka, rasanya jalan ceritaku sudah mulai berbeda dengan jalan ceritamu.”

Sore itu aku yang memilih untuk menjadi yang pertama dalam bercerita. Eka mengangguk dan memberiku ruang untuk memulainya. Dengan dada yang berdebar aku mulai bercerita. Aku berharap Eka tidak kaget atau marah, bahkan menyesal dengan ceritaku saat ini. Perlahan aku bercerita tentang alur hidupku yang sudah ada pemeran lain dalam ceritanya. Ia berperan sebagai tokoh utama yang mengisi alur ceritaku setiap waktu.  Mendengar ceritaku Eka hanya mengembuskan napas dalam-dalam. Ia tidak bertanya atau berkomentar mengenai ceritaku sampai aku selesai.

“Maaf, Eka. Aku tidak bisa menjadi Anggraeni dalam ceritamu,” itulah akhir dari ceritaku sore itu. Debar dadaku semakin tak menentu. Aku melihat Eka masih diam. Ia menoleh dan menatapku perlahan dan tajam. Aku semakin kelu. Mataku seakan nanar untuk menatapnya. Ia mengambil dan menggenggam tanganku. Dan berkata, “Letta, aku tidak pernah memintamu untuk menjadi Anggraeni dalam ceritaku. Aku tidak berhak untuk itu,” lalu ia memelukku di antara sore yang kian renta. Warnanya berubah menjadi merah dan lusuh. Sebab, gerimis mendekapnya dan membuatnya menggigil. Dan malam merenggutnya. Kami saling berpelukan di antara risaunya hujan yang kian berkecamuk. Sampai malam menjadi lagu dan lugu. Ia meminta kami pulang dan mendekap erat angin yang dihirupnya. Kami pun beranjak meninggalkan jejak hujan yang perlahan pudar. Menyisir gerimisnya yang bergerak parau.

***

Sampai Desember keenam ia masih setia dengan tulisan dan perasaan yang selalu ia jaga. Padaku. Entahlah. Sampai kapan perasaan itu akan kukuh di dadanya yang selalu terjal. Dan memintaku untuk menemuinya di tempat biasa kami bercerita. Wajahnya masih sendu seperti Desember lalu. Aku tersenyum ketika ia datang dan duduk di sisiku. Di sebuah kursi panjang yang berhadapan langsung dengan rel kereta yang lalu lalang di hadapan kami. Tanpa dialog ia pegang bahuku. Dan tanpa diminta aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia bercerita panjang lebar. Aku setia mendengarkannya tanpa bertanya dan mengomentarinya. Sesekali ia menatap wajahku sembari berkata, “Kamu masih sama seperti dulu, seperti bulan yang melahirkanmu. Selalu menjadi lagu dan puisi,” aku menanggapinya dengan senyum. Ia tahu bahwa aku sudah menjadi seorang yang tak lagi sendiri. Di rumahku seorang bidadari manis senantiasa menunggu kehadiranku.

“Eka, kamu tahu,” tiba-tiba ia berhenti bercerita dan menoleh padaku yang masih bersandar di bahunya. Ia menatap mataku dan aku juga menatapnya dengan lembut. “Aku tidak pernah bisa menjadi Anggraeni dalam ceritamu. Tetapi aku sudah menjadi Anggraeni di dadamu sebelum cerita itu kamu ciptakan.

Jakarta, 141215

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here