Lelaki itu bernama Randu. Ia menyapaku di antara sore yang hampir lelap ditelan malam yang gamang. Aku samar menatapnya sebab matahari mulai mengembara pada barat yang jauh. Ia hanya menyisakan beragam warna yang kusebut senja. Tak ubahnya panggung yang elok mataku tanpa mengedip menatapnya. Tepat di bawah pohon kecil daunnya semampai aku duduk menatap ragam warna itu.
“Hey, kamu Ara, kan? suka sama senja?” aku tersenyum dengan tertawa mendengar suara asing seakan aku mengenalnya. Tapi sekilas aku mengingat aku tidak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Aku masih menatap senja yang semakin pudar. Ia membuatku jatuh cinta, jatuh cinta pada warna yang ia tampakkan padaku. Mungkin pada semua orang yang tengah bersamaku di tempat asing ini. Vila Botani, Bogor. Sebuah tempat yang menjadi lumbung pertemuanku dengan lelaki asing yang tahu namaku. Tiara. Aku heran kenapa ia tahu nama panggilanku. Entah dari mana ia datang. Ia bagaikan malam yang tanpa kuundang dan tiba-tiba rebah di tepiku. “Iya, aku Ara, kamu saipa?” suaraku sedikit remang menjawab sebuah tanya yang baru saja kudengar. Aku menatapnya dengan lekat. Aku belum kenal lelaki ini. Pikirku. Ia hanya tersenyum mendengar suaraku. “Aku Randu. Tinggal di dekat sini,” hanya itu yang aku dengar. Dan sekejap ia hilang di antara redupnya sore.
***
Aku masih duduk di tempat yang sama. Menatap senja yang semakin parau. Tanpa jejak ia pergi. Di belakangku sebuah vila bisu. Canda dan tawa terdengar dari dalamnya. Beberapa teman yang tengah euforia dengan cerita dan cintanya. Petikan gitar dan alunan lagu pun terdengar sendu dari ruang itu. Aku menikmatinya dari tempatku diam. Ragaku seakan rapuh untuk beranjak. “Kamu masih di sini?” suara lembut yang baru saja hilang dari telingaku kini terdengar kembali dan sedikit membuatku terkejut. Itu suara Randu. Lelaki yang menyapaku sore tadi. Aku tidak tahu kapan ia datang. Yang aku tahu ia tengah tersenyum di sebelahku sembari menyalakan lilin yang ia bawa. “Randu. Dari mana kamu?” aku beranikan diri bertanya walau pun kami baru dua kali bertemu. Ia menatapku lekat. Membuatku jatuh pada ketajaman matanya. “Aku hanya pergi mengambil lilin ini untuk menemani kamu,” aku heran mendengar jawabnya. Ia seakan tahu kalau aku datang ke tempat ini membawa luka. Aku juga heran kenapa ia tiba-tiba berkata ingin menemaniku malam ini.
“Randu, tempat ini indah, ya. Sunyi. Anginnya mesra sekali dengan jiwaku,” aku mulai berdialog dengannya. Tanpa peduli pada percikan air yang seakan gerimis. Dan rumput yang mulai membasah. Juga padanya yang baru aku mengenalnya. Aku mulai bercerita seakan ia sahabat lama yang selalu bersamaku. “Randu, kamu pernah jatuh cinta?” sebuah tanya yang membuatnya menoleh padaku dengan sekejap. Ia hanya tersenyum mendengar tanyaku. “Aku hampir lupa pada cinta yang pernah aku kenal. Mungkin karena sudah terbiasa dengan alam yang selalu ada untukku. Ia memberiku beragam warna di setiap waktunya.” Sebuah jawaban yang membuatku berdesir mendengarnya. Aku tidak percaya. Lelaki seperti dia tidak mengenal cinta. Ah, dunia ini memang absurd.
Malam semakin entah. Dingin yang kurasa lebih dari biasanya. Aku dan Randu masih berdialog di antara bias lilin yang temaram. Di sampingnya aku merasa berbeda. Ada sebuah desiran yang perlahan mengalir di nadiku. Aku mencoba mengartikan desiran itu, tetapi tidak dapat aku temukan artinya dalam kamus jiwaku. Angin yang sepoi membuatku menggeliat pada alam yang menjadi tanduku. “Randu, kamu mau menjadi temanku malam ini. Menemaniku mencumbui malam dengan segala dinginnya,” kalimat ini aku ucapkan pelan pada Randu yang duduk di sampingku sembari aku rebahkan kepalaku pada bahunya. Ia membelai rambutku yang terurai dengan lembut. Aku mulai bercerita tentang luka yang tengah mengembara di antara palung hatiku. Ia masih membelai rambutku dengan lembutnya. Aku sedikit manja dengan belaiannya. “Ara, kamu perempuan hebat. Kamu bisa tersenyum di antara luka yang tengah menggunung di dalam diri kamu,” suaranya lembut di telingaku. Sembari ia membenarkan lilin yang hampir jatuh oleh desauan angin ia memujiku dengan lembutnya. “Tidak, Randu. Aku hanya bertahan di bawah puing rasa yang lebih dari lama menjadi ombak di jiwaku. Ia telah mengakar dan menjadi tumbuhan manis yang lebih dari satu musim,” ia mendekap bahuku dengar erat. Aku seperti hujan yang mengering di bahunya. Terasa hangat dan ingin berlama di dekapnya.
Entah berapa lama aku bersama Randu ditemani lilin yang semakin memudar. Angin malam semakin menusuk aromaku. Aku masih bersandar di bahunya. Tanpa dialog aku lelap. Aku lupa dengan segala yang kurasakan dan kuceritakan pada Randu tadi. Aku lelap di bahunya. Menyusul mimpi yang lengang di sepinya malam.
***
Aku terbangun dan bukan di tempatku. Aku ingat semalam aku tertidur di bahu Randu. Lelaki yang menemuiku sejak sore kemarin. Tapi aku sudah tidak melihatnya pagi ini. Aku terbangun di sebuah kamar tempat aku dan teman-teman menginap. Sekejap aku membuka jendela melihat matahari yang mulai meninggi. Aku masih mencari Randu. Tubuhku seperti lumpuh untuk keluar dari kamar tempat aku bangun dari tidur. Aku berusaha beranjak dan keluar melihat langit yang sudah sunyi. Dengan gontai aku berjalan ke tampatku semalam. Aku tidak menemukan siapa-siapa di tempat itu. Aku tertegun. Berdiri mematung menatap sebuah tempat yang menjadi lumbung pertemuanku dengan Randu. Aku linglung seperti angin yang mencari arah. Tidak ada jejak sedikit pun bahkan lilin yang menjadi teman semalam juga tidak ada. Seketika jiwaku rapuh. Aku tersungkur di tempatku berdiri. Melihat kosong di mataku. “Randu, di mana kamu. Aku masih ingin bercerita sama kamu,” bibirku gemeter menggemakan suara itu. Tubuhku hampir jatuh menyentuh tanah tetapi seketika ada yang menahannya.
“Ara, kamu kenapa, kamu sakit, ya?” suara itu keluar dari bibir temanku yang menahan tubuhku yang hampir menyentuh tanah. Nisa. Ia teman karibku yang selalu menemaniku dalam keadaan apa pun. “Nisa, di mana Randu? Aku ingin bertemu dengannya,” ia heran dengan nama yang aku sebut. Ia menatapku dalam-dalam.
“Ara, kamu bermimpi, ya. Di antara kita tidak ada yang bernama Randu,” sembari ia membantu tubuhku berdiri. “Tapi aku bersamanya dari kemarin sore, Nisa. Di mana dia aku inging bertemu,” aku memberontak pada temanku. Memaksa untuk membawaku pada Randu, tetapi ia mencegahku. Aku tetap berkeras hati ingin mencari dan menemuinya. Entah di mana aku akan tetap mencarinya. Aku ingin hidup dengan dia. Dia yang telah membawa obat bagi lukaku. “Ara!” dengan sigap Nisa menggenggam lengannku dan berteriak. “Di sini tidak ada yang namanya Randu. Kamu hanya mengkhayal saja dari semalam. Kamu tahu, aku melihatmu berbicara sendiri di bawah pohon itu,” Nisa menarikku agar aku kembali ke kamar. Aku mengikutinya dan perlahan pipiku yang senyap mulai basah oleh air mata. Aku masih menatap tempatku berdialog dengan Randu. Dengan mata yang berurai air dan perih. Aku mencoba untuk kembali pada tempat itu namun Nisa menggenggam erat lenganku.
“Randu, di mana kamu?” aku masih memanggilnnya waktu aku sampai di kamar. Nisa menyuguhiku teh hangat. “Nisa, aku ingin mencari Randu,” ucapku di antara seduhan teh yang ia suguhkan. “Ara, kamu berhenti mengkhayal. Tidak ada yang namanya Randu di sini,” ia mengiba di depanku. Aku hanya menahan air mata yang semakin lama semakin berderai. Aku masih tidak percaya dengan yang aku alami. Aku yakin Randu ada. Tapi di mana aku harus menemuianya.
“Randu, aku masih ingin bercerita tentang luka yang menjadi ombak di jiwaku. Tapi di manakah kamu, Randu?”

Jakarta, 111213

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here