Aku masih ingat hujan sore itu. Saat aku bersandar pada dinding di tepi kolam renang. Jendela-jendela itu bisu. Ia sama sekali tidak menghiraukan mesranya hujan dengan mataku. Kabut yang liar mulai menjamah redupnya sore. Aku melihat burung senja mulai beterbangan seaakan ada pemandunya. Dan di antara rebahnya hujan yang mulai kering aku beranjak pada sebuah rasa yang mulai singgah di benakku. Entahlah. Hujan sore itu begitu indah meski tanpa bianglala. Aku seakan bertapa di atas kabut yang terjal. Bermeditasi dengan sepenggal senyum yang baru saja kulihat. Dua gunung elok dan angin yang dingin seakan lagu senja di mataku. Aku masih belum beranjak dari tepi kolam renang yang menjadi ruang pertemuanku dengan sebuah jiwa yang manis. Wajah yang sendu dan bibir yang lekuk bagai busur. Dua alis mata yang lentik bagai sabit. Aku seakan terpenjara oleh sebuah sosok yang baru kusapa senja itu.
***
Waktu seakan tidak bisa berdiam dalam satu detak pun. Ia selalu melaju bagai degup jantung. Aku pun beranjak merayu malam yang lelah. Berdansa dengan khayal di atas meja sepi di ruang tamu tempat yang aku sewa dan beberapa teman. Yah, aku memang sedang berada di suatu tempat yang dingin dan rentan hujan. Sebuah pertemuan dengan beragam teman yang tidak satu tempat denganku. Villa Choolibah. Menjadi tempat bercengkerama dengan cinta dan napas baru.
Tepat senja telah tiada aku masih duduk di antara kursi yang melingkari meja di ruang tamu. Seketika duduk sosok anggun dan manis sembari mengembangkan senyum entah untuk siapa. Tapi di ruang itu hanya aku. Dan sosok itu menatapku dengan sendu tapi tajam. Aku mengerlingkan mata sembari basa-basi dengan sebuah suguhan senyum dan tawa renyah. “Kamu yang duduk di tepi kolam sore tadi, kan,” itulah bait pertama yang menjadi pembuka dialogku dengannya.
“Ia, aku dari Purwokerto. Kamu dari mana?”
“Aku Hafiz, dari Surabaya, nama kamu siapa?”
“Aku Wiwid.”
Dialog itu berakhir ketika suara-suara menggema memanggil nama satu sama lain. Wiwid beranjak dan melangkah gontai menuju kamar yang ia tempati. Aku menatapnya dengan mata kosong. Seakan baru selesai berdialog dengan makhluk surga yang sengaja turun untuk menemuiku. Wiwid. Sebuah nama yang melekat pada seorang jelita dan manis. Sikapnya anggun dan lemah lembut. Aku tertegun menatapnya dan baru sadar ketika ada selendang melayang di wajahku. Sakinah atau “Kikin” sahabat satu almamaterku yang menyadarkanku dengan selendangnya. Aku hanya tersenyum absurd di depannya. Tanpa sepatah kata aku beranjak ke kamar dan rebah di antara kertas kosong yang kuisi dengan puisi.
“Di sini. Di tempatku berdiri
Aku menemukan satu bunga cantik
Di antara ribuan bunga yang berwarna.”
Aku menutupnya malam itu dengan puisi. Yang kutulis pada jendela bisu di kamarku. Juga pesan “selamat malam” pada seorang jelita yang baru kukenal melalui telepon genggamnya. “Hafiz, kamu udah tidur atau lagi mengkhayal?” itulah teriakan kecil Kikin sahabatku dari ambang pintu dan aku menjawabnya dengan suara parau.
***
Pagi kedua melintang dengan matahari ranumnya. Suara kicauan burung yang samar seperti lagu rindu menemani serpihan udara. Kabut mulai pudar. Begitu pun embun ia mulai berjatuhan dari daun-daun yang dijamahnya semalam. Aku membuka jendela dan menatap matahari dengan mata yang berbeda. Jika kemarin aku menatap satu bias matahari. Pagi itu aku menatap dua bias matahari yang berbeda. Bias yang satu adalah bias matahari yang terbit dari timur dan bias matahari yang satu lagi adalah bias wajah jelita yang kukenal semalam. Wiwid.
Semua yang bernapas mulai menghirup udara sejuk pagi itu. Tanpa suguhan lelah yang mengiringi langkahnya. Sedang aku hanya berdiri satu arah dengan matahari. Menyelinap di antara rentetan bunga yang berjajar di depan kami tinggal sementara. Melihat sosok jelita dengan balutan jilbab abu-abu mudanya dengan mata yang tidak berkedip. Semua dimulai dengan senyum.
Setelah menyeduh segelas kopi hangat dan sekotak nasi uduk kami beranjak ke suatu tempat untuk menyaksikan pagelaran seni bersama. Lalu-lalang teman-teman panitia yang mengatur kami menjadi ejaan mata yang tidak ada bosannya pagi itu. Aku melihat sosok jelitaku berjalan gontai di antara langkah-langkah lainnya. Dengan sengaja aku sedikit berlari agar bisa sejajar dengannya. Ia menoleh dan tersenyum renyah melihat aku berjalan di sampingnya. “Hey…” kata itu terdengar ringan dan mendesir di daun telingaku. Aku membalasnya dan kami mulai berdialog.
“Nanti kita pulang bareng. Kita satu arah, kan?” tanpa sadar kalimat itu lepas begitu saja dari bibirku. Aku sedikit tertunduk tapi dia tersenyum mendengar kata-kata konyolku. Kami pun berjalan dengan lamban menuju tempat pagelaran seni dengan dibumbui tawa dan suit-suit dari beberapa temanku. Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin berjalan di sampingnya dan duduk di sampingnya nanti. Itulah pikiran egoisku.
***
“Kamu suka pertunjukan tadi?”
“Suka banget. Rasanya ingin banget nonton lagi.”
Setelah hampir setengah hari berada di satu ruang dengan berbagai pertunjukan seni kami pun kembali ke villa tempat kami. Saat pertunjukan berlangsung aku sama sekali tidak konsentrasi pada pertunjukannya, tapi aku hanya konsentrasi pada jelitaku yang tepat duduk di sebelahku. Aku kembali duduk di antara lingkaran meja ruang tamu tempat aku berdialog pertama kalinya dengan jelitaku, Wiwid. Aku menatap dua gunung yang mulai kering tanpa embun. Hari sudah siang. Matahari dengan teriknya menyapa dua gunung itu. Sedang aku menatapnya dengan teriknya mataku. Aku mulai sadar. Ada rasa baru yang berdesir hebat di antara detak nadiku. Aku berusaha menahannya seperti dingin menahan panas matahari, tapi aku tidak mampu. Debaran itu semakin hebat saat aku menyebut satu nama. Wiwid.
***
Hari ini adalah hari terakhir kami di villa dan melanjutkan acara terakhir di Jakarta sekaligus pulang. Aku tersenyum dan murung. Semalam suntuk tidak menjamah lelap sedetak pun, tapi bersenda dengan Wiwid dan beberapa temannya. Di antara kami yang bersenda dan bercengkerama tentang pulang bareng dan lainnya aku tidak sedetik pun melewati tatapanku pada sosok jelitaku. Aku sadar beberapa saat lagi kami akan berpisah dalam waktu yang entah. Aku tidak gundah. Aku tidak risau. Tapi aku tersenyum karena aku telah jatuh cinta pada sosok jelita itu.
Setelah berkemas kami berangkat ke Jakarta. Dengan hati gamang aku berdiri tepat di depan Wiwid saat mengendarai bus menuju Jakarta. Aku berdialog dengan wajahnya yang lelah. Sembari memandangi alam bebas melalui celah jendela. Sedang yang lain berdialog dan euforia dengan canda dan tawanya.
***
“Hey, Wiwid. Nanti kita pulang bareng, ya. Tiket udah aku pesan. Nanti pukul 16.00 kita berangkat dari Stasiun Senen,” sebuah dialog yang menjadi pembuka obrolan ringan setelah kami lelah mengikuti acara terakhir. Aku menatap wajahnya dengan lekat. Dua matanya yang indah dan bibirnya yang ranum menjadi puisi siangku. Ia menjawab dengan sebuah senyum sumringah.
Aku melihat matahari tepat di atasku. Biasnya yang terik seakan tiada terasa olehku. Aku berdiri di bawah pohon menunggu sosok jelitaku dan teman-teman yang lain untuk berangkat ke Stasiun. Setelah berpamitan dengan beberapa temanku yang sekejap akan berpisah kami pun melaju menerjali keganasan ibu kota. Aku dan Wiwid tidak berhenti berdialog dan bersenda sembari kuubah senyumnya menjadi puisi seakan-akan aku dengannya akan terus bersama dalam satu tempat yang sama. Tapi aku sadar bahwa sebentar lagi ia akan singgah kembali ke tanah kelahirannya. Purwokerto.
***
Tepat pukul 16.00 kereta melaju dengan riuh angin dan deru relnya. Kami duduk di kursi yang berdekatan. Dan aku. Aku duduk tepat di sebelah Wiwid di dekat jendela. Aku memlih tempat itu agar aku dapat melihat alam bebes dengan segala geliatnya. Di dalam kereta kami lebih memilih diam. Hanya sekejap dan sejenak kami berdialog. Sesekali aku menatap wajahnya dengan hati gundah. Di luar matahari semakin meninggalkan kami. Langit yang kutatap semakin merah. Hari sudah senja. Dan kami masih menikmati kebisuan yang tidak tahu entah sampai kapan.
Kebisuan kami berakhir saat malam menggoda kami dengan segala dingin dan redupnya. Kami mulai bersenda dan tertawa saling meledek dan tidak pernah bosan mengulanginya. Hingga beberapa Stasiun kami lewati dan kami memilih untuk tidak tidur. Dengan tidak sengaja aku memandangi dua mata Wiwid yang duduk tepat di sebelahku.
“Wiwid, di gerbong ini aku akan menulis puisi yang lariknya aku ambil dari wajahmu yang cantik. Dari bibirmu yang bagai anggur. Dari dua matamu yang indah. Dan aku bacakan di depanmu,” entahlah. Tiba-tiba kalimat itu lahir dari kekakuanku secara tidak sadar. Wiwid tersenyum dan yang lain meledek dengan teriakan kecil “cieee…” aku tidak peduli semua itu. Aku hanya ingin berpuisi di depannya di gerbong itu dengan larik yang kutulis dari dua matanya dan bibirnya.
Stasiun Purwokerto sudah di ambang mata. Aku masih menatap wajah sosok jelitaku dengan tatapan sendu. Aku tahu sebentar lagi ia akan turun dan meninggalkan semua tentang rasaku. Satu puisi kubacakan untuknya tanpa kutulis sebab aku tidak sempat untuk menulisnya. Ia tersenyum dan berkata “Puisi kamu bagus. Aku menyukainya,” kalimat itu membuat nadiku berhenti mengalir. Aku kaku mendengarnya. Dan selangkah lagi ia akan turun. Aku mengantarnya sampai depan pintu. Sebelum ia beranjak aku katakan padanya.
“Aku mencintaimu. Seperti aku mencintai puisiku yang kutulis dari rupamu yang manis,” ia tertegun dan tersenyum tanpa sepatah kata. Aku kembali naik karena kereta sudah mulai berjalan pelan. Dan tiba-tiba Wiwid melambaikan tangannya sembari berteriak:
“Aku juga mencintaimu seperti aku mencitai puisimu.”
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu. Tubuhku seakan rapuh dan tegar. Aliran darahku seakan mengalir lebih deras dari baisanya. Aku seperti ingin melompat dari kereta agar aku dapat mendekap tubuhnya. Aku berdiri di daun pintu. Menatapnya dengan rasa yang entah seperti apa. Dan ia pun sama. Menatapku sembari malambaikan tangan dan tersenyum. Sebelum kereta benar-benar jauh aku sempatkan berteriak: “Aku mencintaimu…..” dan ia pun berteriak dengan kata yang sama.
Deru rel kereta seakan lagu baru bagiku. Aku masih berdiri di daun pintu kereta. Menatap sosok jelitaku yang juga masih berdiri di tempat saat aku menyampaikan rasaku. Dan akhirnya parau di mataku.

Jakarta, 031113

SHARE
Previous articleLelaki Sore
Next articleKANGEN IBU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here