Aku pernah ke Jakarta, tetapi bukan untuk menemuimu. Aku ke sana hanya sekadar melepas lelah. Menikmati pengapnya udara dan bisingnya waktu yang berbaur dengan karut-marut jalanan. Sembari melihat langit keruh di atas kota yang linglung. Begitulah aku berdialog denganku, juga denganmu: seorang perempuan semu yang belum pernah bertemu, namun seperti ada dalam waktuku. Yeah, ia selalu menanyakanku kapan akan mengunjungi Jakarta, kota yang ia tinggali selama beberapa tahun. Eva Larasati. Nama itu kukenal lewat media sosial beberapa tahun lalu dan sampai saat ini seperti bunga yang selalu mekar di pagi hari menyambut matahari yang berkilau di matanya. Aku mengenalnya melalui sebuah pertemanan di media sosial dan seperti sebuah lautan yang berombak, ia menjadi teman, sahabat dan kekasih di dunia semuku.
***
Entahlah. Aku selalu berpuisi dengan waktu. Malam menjadi larik yang selalu kususun, terkadang menjadi balada, menjadi sebuah lagu, dan menjadi rindu yang selalu meronta. Aku berdialog dengan kekasih semu di antara celah siang dan malam, juga di bawah pusara bulan yang temaram. Eva Larasati, selalu menjadi candu yang membuat rasaku berdenyar. Ia selalu bermanja dengan jauhnya lewat dialog yang selalu menjadi teman di beranda waktu.
Aku tidak tahu. Ini malam yang ke berapa dan hari ke berapa. Aku hanya tahu, setiap hela waktu selalu berdialog dengannya lewat media yang menjadi alur rasa kami. Kami belum pernah bertemu di dunia nyata sekalipun, tetapi rasa yang kami emban seperti lautan yang setia pada pantai. Ia selalu pulang walau akan kembali menjadi ombak yang beranjak dan kembali lagi.
Kapan kamu ke Jakarta lagi? Sebuah tanya yang kerap ia tanyakan di sela-sela obrolan kami. Aku menjawab bahwa aku akan ke sana suatu saat untuk menemuinya. Bahkan kalimat tanya itu ia jadikan sebuah larik di salah satu puisinya yang sengaja ia tulis untukku beberapa waktu lalu. Aku membacanya, dengan rasa yang membuncah dan angan yang menggerung. Ia begitu mahir membuat puisi yang selalu membuat pembacanya menahan napas, bahkan membendung air mata.
Aku selalu membaca puisinya yang selalu ia kirim. Pagi, sore, senja, dan malam adalah puisi yang selalu ia kirim. Aku membalasnya dengan puisi yang sendu. Menulisnya dengan rindu yang beriak pada muara rasa.
Pagiku adalah puisi yang ia kirim, lewat embun yang basah, juga resapan kabut yang membendung rasa dan rindu. Aku selalu membalasnya dengan puisi yang sama. Sampai suatu pagi yang berbeda. Suatu pagi yang seakan benalu bagi rasaku, seakan tebing terjal yang mengempas rinduku. Aku seperti kabut yang rapuh. Terombang-ambing oleh desauan angin ketika membaca sebuah puisi yang ia kirim. Sebuah rasa yang telah melaut sekejap menjadi batu karang yang diam. Kekasih semuku telah meminang rasa baru. Bukan denganku, tetapi dengan jiwa yang lebih dekat denganku. Ia mengabariku lewat salah satu tulisan yang ia kirim pada pagi yang masih dingin.
Aku seperti ombak yang tidak bertepi. Rinduku linglung. Rasaku bimbang. Ia akan pulang, tetapi rumah yang ia bangun telah menjadi batu karang yang bisu. Aku terempas jauh. Hingga mataku tak lagi memandang senja yang pudar. Aku berjalan di antara ramainya napas yang berbeda. Mengikuti angin yang mendekap tubuh dan rasaku.
Eva Larasati, aku memanggilmu dengan rindu. Kamu menjawabnya dengan rasa yang tenggelam di dasar waktu yang kita bangun. Apakah kamu lupa akan puisi kita yang telah menjadi balada pagi, sore, senja dan malam kita. Aku diam di antara malam yang mengusik. Membaca kembali dialog yang tersimpan di pesan singkat dan kotak pesan media. Entah berapa purnama aku tidak menyapanya. Aku hanya mencoba membunuh rasa dan rindu yang telah menjadi musim di dadaku. Namun, semakin aku mencoba ia semakin menjadi musim yang kemarau dan gersang oleh rasaku padanya.
Pagiku telah berubah menjadi belati rindu yang selalu siap menerkamku. Senjaku telah berubah. Menjadi pias dan tak berwarna. Aku mengusik malam yang gulita. Ia hanya menawariku sebongkah sepi yang menggigil. Aku seperti larik puisi yang tunggal. Tanpa bait dan rima. Bahkan seperti lagu yang sumbang. Eva, aku memanggilmu dengan puisi yang selalu kutulis. Begitulah dialogku pada sepi dan malam. Memanggilnya di antara pekat rasa dan pengapnya waktu.
***
Aku kembali pada malam yang menjadi kekasih bagi rasaku yang lebih dari lama pulas. Menerjali rindu yang semakin terkikis oleh bisingnya sepi. Menyapa aroma waktu yang mengekang pilu. Eva Larasati telah lama menjadi alur rasaku. Dan aku masih merindu di antara terik matahari dan temaram bulan. Entahlah, ia sudah beberapa purnama tidak menyapaku, tetapi aku tetap menulis puisi untuknya.
Begitu jauh Jakarta dari kotaku, Palembang, tetapi rasaku begitu dekat dengannya. Aku selalu setia membaca dialog yang menjadi alur rasa yang semakin pudar. Mengejanya manjadi larik yang berderai bersama hempasan air mata. Hingga ada pesan baru masuk darinya. Aku ragu untuk membuka dan membacanya. Barangkali hanya sebuah kabar tentangnya dan tentang rasanya dengan jiwa yang ia sandingkan dengan jiwanya. Beberapa waktu aku hanya melihat pesan tanpa membuka dan membacanya, hingga masuk pesan baru lagi darinya. Aku masih ragu untuk membuka dan membacanya. Entahlah.
Dengan rasa yang menggerung, dan dada yang berdebur, dan rindu yang meronta aku membuka dan membaca pesan darinya. Betapa. Aku terkinjat dan bersedu sedan membaca isi pesannya. Terkinjat karena aku akan menjadikannya kekasih semuku lagi, sedu sedan karena ia dihempaskan begitu saja oleh jiwa yang ia genggam selama ini. Dengan rasa yang membadai aku membalasnya dengan puisi. Evaku, aku menunggumu menjadi puisi di antara tebing malam yang terjal. Menjadi kita yang selalu merindu.
Ia hanya menjawab, “Kapan kamu akan ke Jakarta lagi, Fan? Aku ingin dan ingin bertemu denganmu,” itulah petikan dialogku dengannya setelah ia kembali menjadi puisiku. Aku menjawabnya dengan segera bahwa beberapa waktu lagi aku akan ke Jakarta untuk menemuinya.
Entah berapa lama aku mengenal dan berdialog dengannya. Tapi sekalipun belum pernah bertemu. Kami hanya menanam sebuah rasa yang setiap hari semakin menggunung. Aku semakin merindunya ketika ia bermanja di antara dialognya. Ia seperti berada di antara huruf yang kubaca, di antara angin yang kuhembus, dan di antara malam yang selalu cemburu pada parasnya yang manis.
Eva, besok aku ke Jakarta.
Sesaat aku mengirim pesan padanya bahwa aku akan mengunjungi kota yang ia tinggali beberapa tahun ini. Ia melonjak dengan riang. Berteriak di antara riuh suara yang bingar. Seperti ingin membaca puisi yang selalu ia kirim padaku. Aku tersenyum membayangkan wajahnya yang manis yang selama ini hanya kulihat di sebuah foto yang ia kirim. Ia kerap berkata bahwa Tuhan telah mempertemukannya denganku, tetapi aku memjawabnya: Tuhan masih mempertemukan jiwa kita, belum raga kita.
***
Sore ini aku menyeka mataku di antara lalu-lalang angin yang siur. Ditemani segelas kopi hangat di sebuah halte di depan salah satu kampus di Jakarta, kota yang menjadi muara rasa dan rinduku pada perempuan manis, Eva Larasati. Aku menunggunya dengan dada yang berdegup. Dengan puisi yang selalu ranum oleh suaranya. Dan dengan rasa yang selalu meronta pada rupanya. Yang manis.
Aku menatap setiap mata yang berlalu. Menghirup setiap napas yang menjadi lagu. Dan membelai setiap rasa yang selalu menderu. Pada perempuan semuku. Setiap langkah yang kulihat menjadi petikan waktu yang cemburu. Pada debar dadaku yang semakin beradu. Di seberang jalan, aku melihat sepasang mata yang bergolak. Melambai padaku dengan lekuk bibir yang manis. Berteriak seakan memanggil namaku. Aku menatapnya dengan lekat. “Eva, kaukah itu,” sejenak aku menatapnya. Membaca setiap lekukan wajahanya yang mawar. Ia berteriak memanggil namaku lagi. “Ifan, aku Evamu,” teriaknya dengan tangan melambai dan senyum yang manis. Manis sekali.
Aku berlari menyebrangi jalan untuk menemuinya. Melawan angin yang seakan menahanku. Tanpa peduli beberapa kendaraan tengah melaju aku tetap melawatinya. Sampai di sebrang jalan, aku menatapnya sekilas. Ia tersenyum. Dengan lekuk bibirnya yang manis. Aku masih menatapnya. Ia menyebut namaku dan aku menyebut namanya. Tanpa terasa, kami jatuh ke dalam pelukan yanga sangat erat. Degup dadaku terasa berhenti sejenak. Merasakan aroma napas dan debar dadanya yang berdebar di dadaku.
Selesai.

Jakarta, 100415 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here