Percik matahari yang kau ajarkan kini sudah aku mengerti
Tuhan yang kau tunjukkan dulu aku telah mengenalnya
Tanpa rinai yang rapuh
Tanpa angin yang keruh
Tanpa langit yang riuh
Tanpa malam yang subuh
Sembahku dalam rindu jelang napasku
Padamu Ibu

Suap senyummu menjadi dermaga lelahku
Lentik napasmu adalah embunku di sebelah Tuhan
Aku hanya menjadi helai dalam doamu
Engkau samudera tiada tepi

Ibu
Tegar mataku kadang pilu
Tegap jiwaku kadang sendu
Teduh anganku kadang tungku
Karena belum mampu berdiri tegak tanpa cintamu
Jauh pelukmu menjadi selimut asaku

Sering kuucap pada Tuhan
Dahan jiwaku kadang rapuh
Tentang jiwa yang kau ceritakan dulu
Belum aku bersua
Ibu, mungkin engkau tau
Sebelah jiwaku yang lepas

Ibu
Belum aku tulis surat cinta padamu
Sempat kuukir pada ombak yang hanya buih
Namamu enggan kusimpan di langit
Di dadaku saja semayam wajahmu yang sendu
Pada waktu kukatakan
Engkau rindu tanpa hari dan malam
Engkau pagi dan senja dalam doaku
Engkau tepi dari pelabuhan ragaku

Ibu, kini anakmu tak lagi dulu
Lalu-lalang harinya membuai peri yang kadang rentan
Lelah paginya kering bagai daun
Separuh matanya tanpa tercipta
Entah karena jemarinya kerap lapuk
Tanpa buai Tuhan dalam lukisannya

Ibu
Hujan itu telah mengajariku lagi
Tentang rindu yang kau beri di hariku
Dan kubawa pada busur bibirmu
Yang kerap dengan nama-Nya

Ibu, harimu dalam kangen
Pagiku adalah pucuk rindu akan bias doamu
Ibu, anakmu dalam sepi bila enggan dengan namamu
Jemarimu selalu menetas haru rinduku

Ibu, aku kangen

“Selamat hari Ibu”

Jakarta, 221211

SHARE
Previous articleKita Satu Gerbong
Next articleMatahari Ibu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here