Hidup dalam sebuah “antara” adalah pilihan pelik yang tidak pernah menjadi sebuah pilihan bagi siapa pun. Namun, nasib terkadang memaksanya untuk menghendaki pilihan itu meski dalam dirinya tidak ada rasa atau kehendak untuk memilihnya. Tidak ada yang salah dengan pilihan itu. Termasuk dalam kehidupan yang terlibat “antara” di dalamnya.

Surti, seorang gadis berusia 20 tahun adalah salah satu gambaran yang terlanjur hidup dalam “antara” yang mungkin tidak benar-benar menghendaki kehidupan tersebut. Ia memilih lingkaran hidup itu sebagai jalan untuk melintasi jarak yang selama ini ia rasakan. Dengan segala kekuatan dan keberanian, juga kelemahan ia abdikan dirinya pada sebuah keluarga besar, kaya, dan terhormat, yaitu Broto Kesowo. Broto adalah lambang kehidupan yang Surti anggap sebagai jalan pintas untuk meraih separuh kehidupannya. Kehidupan sebagai seorang pekerja rumah tangga yang layak dan dilindungi. Kehidupan sebagai pekerja rumah tangga di rumah keluarga besar seperti Broto yang menjadi separuh impiannya. Dalam dirinya tumbuh sebuah harapan bahwa, nanti setelah bekerja di rumah itu akan mendapatkan sebuah kelayakan dalam hidupnya, akan mendapat kenaikan dalam kelasnya.

Ia senantiasa bekerja dengan hati, namun tidak dengan jiwanya. Jiwanya masih terguncang dan selalu gamang. Beberapa hal yang menyebabkan Surti demikian selama berada di rumah besar rumah Broto, tuannya. Antara lain sebuah guci yang dikeramatkan oleh keluarga tersebut. Sebab kesakralan guci itulah membuat Surti selalu menaruh curiga dan rasa penasaran. Namun, rasa itu ia genggam erat demi kehidupan yang ia harapkan.

Antara Surti dan keluarga Broto adalah wajah kehidupan yang seringkali melintas dalam dunia nyata. Surti menjadi pelengkap kehidupan keluarga besar itu yang juga menjadi tontonan hidup yang haknya selalu dimarginalkan. Betapa, sebuah guci menjadi lambang kedigdayaan sebuah keluarga yang telah dipercaya dan menjadi kepercayaan keluarga Broto hingga turun-temurun. Dan guci itu pulalah yang membawa puncak kekeruhan dan kegoncangan keluarga itu kelak.

Surti, selalu menaruh hormat yang sepadan pada keluarga besar yang kadang membuatnya harus meringkuk dalam kesedihan dan kesakitan. Ia ingin melampiaskan perasaan itu dengan mencari tandu dan menemukan di rumah itu, yaitu Rena, salah seorang anak perempuan Broto yang kerap menjadi taming ketidakmanusiawiannya.

Sebuah persoalan hidup selalu lahir dalam hidup Surti. Ia hanya tersenyum pada dirinya tidak pada keluarga besar itu. Ia hanya meratapi guci yang setiap hari ia bersihkan dan ia jaga sepenuh hati. Sebab, ia tidak ingin merasakan hal yang sama ketika suara piring jatuh di dapur dan ia menjadi tumpuan kemarahan keluarga besar tersebut.

Teater Praang pada momentum peringatan Hari PRT Nasional mementaskan sebuah naskah Praang (Kisah Anak Manusia Berjarak-Jarak) karya dan sutradara Agustian di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat (12/02). Pementasan ini tidak lain adalah cara atau media dalam menyampaikan aspirasi bagi para Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang disampaikan secara kompleks melalui sebuah pentas teater. Potret kehidupan PRT dalam pementasan ini menjadi inti dari berbagai permasalahan lain yang kerap menimpa para pekerja selama ini. Banyak harapan yang disampaikan melalui pentas ini antara lain tuntutan mengenai perlindungan dan kehidupan sebagaimana mestinya.

“Kami butuh perlindungan, sekarang juga!” Itulah salah satu dialog dalam pentas tersebut yang seluruhnya diperankan oleh Pekerja Rumah Tangga. Dan Surti menjadi wakil dalam menyampaikan berbagai hal yang seringkali dialami oleh PRT di berbagai tempat.

Kehidupan Surti adalah sebuah potret kehidupan seorang pekerja rumah tangga yang harus dilindungi. Ia kerap dilecehkan, disiksa dan direndahkan. Hal seperti itu sering ia alami ketika suara praang, suara piring atau semacamnya jatuh dan pecah menjadi kepingan. Dan suara praang terakhir adalah suara yang membuat keluarga besar Broto mencapai puncak kemarahan dan kedigdayaannya, yaitu jatuhnya guci keramat dan dikeramatkan tanpa sengaja oleh Surti.

Jatuhnya guci tersebut menjadi awal kehidupan baru bagi Surti. Kehidupan yang layak dan tidak ada lagi hinaan dan cercaan terhadapnya. Hanya sunyi dan kesunyian yang mengantarnya pada kehidupan itu. Namun, ia diantar oleh kepedihan dan kesedihan yang dirasakan oleh rekan sesama pekerja rumah tangga yang menemukan Surti telah menjadi tubuh yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here