Sudah sejak sepuluh tahun lalu ia menjadi tonggak dalam setiap hela napas dan langkah keluarganya. Ia dengan sabar dan tekun mendekap erat putra-putrinya dengan segenap kasih dan sayang sejak suami yang sangat dicintai telah dipanggil terlebih dahulu oleh-Nya. Ia menggenggam erat jiwa dan hati buah hatinya. Sejak saat itu ia bertekad untuk mendidik dan menyulam air mata buah hatinya menjadi segenggam mutiara yang akan selalu bersinar di hadapan Tuhan dan umat-Nya.
Ia lahir dan hidup dengan sebuah nama yang sederhana, yaitu Misna. Sejak kecil telah terbiasa dengan hidup yang penuh alegori yang sederhana pula. Di sebuah kampung, sebuah desa yang sangat sederhana, namun penuh dengan lempengan kasih sayang ia besar dan menjadi seorang ibu yang selalu dibanggakan oleh anak-anaknya. Sejak kepergian suami tercintanya ia senantiasa bekerja dengan kemampuan selayaknya seorang perempuan hanya saja bebannya sedikit bertambah. Namun, ia dengan sabar membesarkan buah hatinya dengan doa dan cinta sehingga satu persatu melanjutkan pendidikannya ke sebuah pesantren bahkan anak sulungnya sudah menamatkan sarjana dengan kebanggaan dan doanya.
Setiap hari ia bekerja di sawah, tanah peninggalan orang tua dan suaminya. Ia tidak punya penghasilan tetap, ia hanya mengandalkan beberapa tanaman yang dapat dijual seperti cabai (pada saat musim), juga tanaman lain yang dapat dijual ke pasar guna menyambung hidup dan membiayai anak-anaknya. Setiap selepas salat subuh ia tidak pernah lepas dari kitab suci-Nya, lalu beberes rumah dan kembali pada rutinitasnya, yaitu memotong rumput di sawah untuk seekor sapi peliharaannya. Setiap hari ia melakukan rutinitas tersebut dan dilanjutkan dengan bercocok tanam di ladang yang menjadi luapan kasih dan rindu akan kebersamaan dengan suaminya.

DSCF5056
Foto Ibu beberapa waktu lalu di rumah salah seorang saudaranya.

Sekitar pukul 10.00 pagi ia kembali dari sawah dan melanjutkan kembali sebagai ibu yang tetap mengutamakan kasih pada putra-putrinya. Ia bertemu beberapa putrinya di pesantren setiap satu bulan sekali guna mengobati rindu yang senantiasa menjadi lumbung dalam setiap doanya. Selain itu, setiap hari ia bersama anak bungsunya yang masih duduk di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Setiap pagi, siang, dan sore ia lebih banyak di sawah merawat tanaman dan beberapa hewan peliharaan anak bungsunya.
Tidak ada harapan yang paling besar dalam hidupnya selain melihat dan menyaksikan putra-putrinya menggenggam pendidikan dan moral yang sangat berguna bagi diri dan masyarakatnya. Ia senantiasa gigih mengais rezeki setiap hari dengan menanam beragam tanaman yang dapat dijual buah dan bijinya. Hasil dari panen tersebut ia simpan dan digunakan untuk membiayai anak-anaknya yang masih mengenyam pendidikan. Suatu ketika ketika anak sulungnya bertekad untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, ia tidak menjawab kecuali dengan mata yang berpendar dan berurai air mata, tetapi dengan hati yang gigih dan teguh ia relakan anak sulungnya merantau untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara ia tetap berjuang dengan doa dan ketabahan hatinya di kampung dengan tetap bercocok tanam di sawah yang telah menjadi rumah kedua baginya.
Sebuah ladang yang tanahnya subur dan selalu melahirkan rindu senantiasa menjadi tungku dan bara agar tetap kuat dan sabar menjalani hidupnya sebagai ibu dan pahlawan bagi keluarganya.
Dari tanganya selalu lahir rasa cinta yang penuh rindu. Dari senyumnya selalu lahir rahim kasih dan kekuatan yang menjadi rumah bagi anak-anaknya. Hingga saat ini ia tetap berjuang dengan hati yang lapang dan dada yang selalu menjadi ladang rindu bagi anak-anaknya. Ia tetap mendekap erat buah hatinya agar kelak menjadi sepertinya bahkan lebih darinya.

Jpeg
Saat menggendong cucu pertamanya pada lebaran lalu.

Perempuan itu kini telah menginjak pada usia hampir senja. Namun, senyum dan ketabahannya seakan surga yang tergambar dan menjadi tempat berteduh bagi putra-putrinya. Ia tetap merawat ingatan akan kenangan-kenangan bersama suami tercintanya. Juga selalu menguraikan kasih dan sayang pada putra-putrinya. Di dalam jiwa anak-anaknya, ia buka hanya pahlawan, tetapi malaikat yang senantiasa membentangkan sayap-sayap cintanya setiap waktu. Sedikit pun tidak pernah terlihat ketidaktegaran dalam raut wajahnya. Ia selalu menjadi lumbung kasih setiap saat pada anak-anaknya. Perempuan itu adalah ibuku yang sejak kecil kupanggil Ummi. Pahlawan juga malaikat dalam keluarga dan hidup kami.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog (Blog Competition) Kudo (Kios Untuk Dagang Online) pada laman; http://kudo.co.id/

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here