aku seperti akar yang mati,
kering tanpa rindu,
lupa pada pasir,
lumpuh di kesepian yang meradang,
dan hilang perlahan.

sebab di rumahku sudah melarat anggur,
maka aku mengisap nadimu,
menyeduh napasmu.

dan perlahan rumahku hilang,
dibawa angin yang entah,
lalu,
aku menjadi dewa yang murka,
mengutuk tubuhku menjadi bayang,
yang kadang menyamar luka,
di perempatan malam.

seperti doaku pada tuhan,
aku ingin lelap di tubuhmu,
menerjali samudera manis,
di dadamu,
dan akan tetap menjadi kutukan.

Jakarta, 2014
puisi dimuat dalam antologi “Negeri Laut” Dari Negeri Poci 6

SHARE
Previous articleBerlayar dalam Mimpi
Next articleZiarah Rindu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here