Judul : Kerumunan Terakhir
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Mei 2016
Tebal : 360
ISBN : 978-602-03-2543-9

Setiap sesuatu diciptakan berpasangan. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada tubuh dan benda yang bernyawa dan berjiwa. Musim pun memilih untuk berpasangan. Begitupun akal dan pikiran yang senantiasa menjadi pasangan untuk mejadi rahim ide dan imajinasi pada setiap manusia. Akal dan pikiran itulah yang nantinya akan membawa seorang menentukan dan memilih jalan dan alur cerita hidupnya.
Seperti pada pada novel ini yang menceritakan seorang tokoh bernama Jayanegara. Sebuah nama yang sangat kental akan sejarah tanah Jawa. Tentu pemilihan nama tokoh oleh penulis agar memiliki jiwa atau mendekati dengan jiwa pemilik nama tersebut. Namun, tidak dengan Jayanegara dalam “Kerumunan Terakhir” yang ditulis oleh Okky Madasari ini. Okky Madasari adalah novelis yang telah melahirkan lima novel dalam kurun waktu kurang lebih dari lima tahun. “Kerumunan Terakhir” adalah novel terbarunya. Selain menulis ia juga pemilik dan penggagas Sastra Masuk Kampung. Jayanegara yang diceritakan dalam novel ini adalah Jayanegara yang hidup dalam dua jiwa dan dua dunia. Jayanegara adalah seorang pemuda yang dibesarkan di sebuah desa yang jauh dari riuh dan riang kota. Ia dilatih dan diajari arti hidup oleh Simbah sejak kecil melalui arti hidup dengan cara membaca dan bersahabat dengan alam.
Jayanegara menjadi seorang yang mandiri secara akal tetapi tidak secara pikiran. Ia kembali ke rumah ibu dan bapaknya setelah lebih dari lama tinggal bersama Simbah di bawah gunung tempat ia tinggal. Konflik mulai dibangun dalam novel ini ketika Jayangera sudah mulai paham akan warna hidup. Ia mulai melihat apa yang harus dilihat dan mengerti apa yang harus dipahami. Mulai dari ambisi untuk mengalahkan bapaknya yang secara jelas telah menyakiti ibunya.
Kemandirian akal yang dimiliki oleh Jayanegara semakin lengkap ketika ia telah berpasangan dengan Maera, gadis sesama Jawa yang rela menyerahkan dirinya walaupun tidak secara total kepadanya. Jayanegara menjadi pemuda yang rentan akan moral ketika dihadapkan pada bapaknya. Dalam hal ini penulis berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa pendidikan tinggi sekalipun tidak akan pernah mengubah karakter dengan mudah jika tidak diubahnya oleh diri-sendiri dengan kesadaran yang sepenuhnya. Penulis mencontohkan dalam novel ini melalui Bapak Jayanegara, yaitu Sukendar yang telah memiliki gelar guru besar di tempat ia mengajar. Hal ini agar kita sebagai pembaca tahu bahwa pendidikan yang tinggi harus disertai dengan moral yang tinggi pula. Ketika moral dan etika tidak menjadi penyangga utama dalam diri seorang apa guna pendidikan setinggi langit.
Kehidupan yang dipilih oleh Jayanegara adalah kehidupan yang senantiasa tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia mengembara mengikuti arus yang membawanya pada sebuah dunia baru melalui kekasihnya, Maera. Dengan rasa kesepian dan kegalauan yang selalu mengalahkannya, ia menelanjangi jalanan hingga tiba di Jakarta, kota impian kekasihnya sejak setelah lulus kuliah di kota kelahirannya. Ia menyerah pada kegelisahan karena tidak tahan dengan kondisi di rumhanya yang hanya membuatnya semakin keruh.
Ia tinggalkan kota kelahirannya dengan mengembara dan akhirnya bertemu dan manyatu dengan kakasihnya, Maera. Dari sini ia mulai melahirkan dirinya melalui jiwa yang lain. Ia menjadi jiwa yang merdeka walaupun jiwa yang sebenarnya masih terombang-ambing di antara kerumunan pikirannya. Ia lahir kembali dan melahirkan nama dan jiwa baru dalam dunia yang baru ia singgahi dan ingin bermukim di dalamnya, yaitu dunia maya yang ia pakai sebagai dunia nyata kedua. Ia melahirkan jiwa baru dan diberi nama Matajaya!
Matajaya yang lahir berusaha menenggelamkan Jayanegara yang dianggap kurang berguna hidupnya. Ia mulai merangkak dan berjalan di dunia baru tersebut dan berpapasan dengan beragam wajah dan karakter. Petualangannya dalam dunia baru membawanya menjadi seorang yang dipuja. Tidak hanya itu, Matajaya memiliki titisan Jayanegara dalam beberapa hal di antaranya dalam hal syahwat. Selain sebagai kendaraan untuk berpetualang dunia baru bagi Matajaya adalah alat untuk melatih dan memuaskan diri dengan beragam situs yang ia jelajahi. Inilah titisan yang menetas dari Jayanegara pada Matajaya.
Kemenangan dan kekalahan adalah bumbu dalam petualangan Matajaya. Ia mengembara dari satu jalan ke jalan lain guna untuk menuntaskan otoriter bapaknya yang telah mengekangnya sekian lama dengan sifatnya yang ia anggap tidak bermoral. Ia memiliki tujuan lain selain menelusuri kesunyian dan keriuhan pada kerumunan yang terdapat dalam dunia barunya.
Ia akhirnya harus kalah dan mengalah sejenak pada kerumunan yang membawanya bertemu kembali pada sosok yang ia anggap telah menjadikannya seperti sekarang. Dengan hati yang nanar ia terima kekalahan sementara tersebut dengan perasaan yang bergolak. Dan ia akan membalasnya pada lain hari, pikirnya. Benar saja, setelah ia mengubur Matajaya dalam ingatan dan kembali menjadi Jayanegara dengan kekalahannya ia kembali mencari ide untuk mengalahkan dan menghukum bapaknya. Hal itu ia lakukan dengan memasang ibunya sebagan benteng pertahanan terakhir yang akhirnya berhasil namun, benteng lain yang telah ia bangun perlahan runtuh, yaitu kekalahan Maera pada sebuah pertemuan dengan tokoh Akardewa dalam novel ini.
Betapa pun getirnya hidup, novel ini membawa dan mengingatkan kita akan pentingnya sebuah moral dalam pendidikan, tidak hanya moral dan pendidikan. Namun, keduanya harus selaras dan tumbuh bersamaan dalam setiap jiwa manusia. Sukendar adalah conton nyata yang hanya mengedepankan pendidikan daripada moral. Ini adalah bagian kecil dari kerumunan yang selalu menjadi dewa bagi kerumunan lain dalam dunia nyata. Dalam novel ini Sukendar kalah, namun di dunia nyata masih banyak Sukendar lain yang hidup dan akan terus hidup. Begitupun dengan Jayanegara. Ia akan terus hidup dalam ambisinya untuk menuntaskan sesuatu yang ia anggap tak bermoral.
Jayanegara lahir semata-mata mewakili sebagian pemuda saat ini. Dan Matajaya adalah bagian dari kehidupan yang akan terus lahir dalam dunia sebenarnya.

Kekurangan
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian pembaca dalam novel ini dan dianggap sebagai hal yang harus disempurnakan. Kekurangan yang ditemukan dalam novel ini berupa beberapa tulisan yang seharusnya dicetak miring karena buka Bahasa Indonesia. Selai itu, penggunaan kata HP (Hand Phone) sebenarnya kurang tepat karena kata tersebut lahir begitu saja dan tidak ada padanannya dalam bahasa asing (dalam hal ini Bahasa Inggris). Kata yang tepat adalah Telepon Seluler dengan padanan kata Cellular Phone atau disebut juga Mobile Phone.

Kelebihan
Setiap sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Begitu kalimat pembuka dalam tulisan ini. Ada kekurangan dan kelebihan pada setiap sesuata yang berpasang-pasangan tersebut termasuk dalam novel ini. Ada banyak kelebihan yang disampaikan penulis dalam novel ini yang senantiasa ditujukan pada setiap pembaca agar melihat dan meneliti kembali tentang perjalanan dan perkembangan zaman yang membawa kita pada sebuah lorong yang penuh hambatan dan tantangan yang harus dihadapi. Pesan moral yang disampaikan begitu dalam dan penuh makna.

Jakarta, 170516
@mhkholis

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here