Pertemuan Pagi

Antara tubuh yang linglung Dan embun yang nanar Matahari hanya sisa risau Yang berbekas di kasur tidurmu Ia merasa lapuk Sebab biasnya telah kau ambil Di jendela Matahari mengintip matamu Menyaksikan embun yang tergopoh Mencari hangatnya pagi Di antara kelu bibirmu Di langit Matahari menjadi Ibu Bagi...

Reuni Kata pada Ulang Tahun Komunitas Ranggon Sastra

Pada sore kemarin (Rabu, 22/03/17) saya teringat sebuah puisi karya maestro sastra Indonesia, W.S. Rendra, salah satu lariknya berbunyi seperti ini, “Apa yang bisa dilakukan oleh penyair bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?”...

Musyawarah Kata dalam “Magma”

Bagi sebagian orang puisi menjadi sebuah lorong panjang yang tak berujung. Liuk, lekuk, dan kelok kata yang berjajar seakan jembatan terjal yang sulit diseberangi. Sedang larik dan bait seakan sungai panjang yang tak bertepi....

Reuni Januari

Sedang waktu semakin cemburu Pada gelembung musim Yang senantiasa diam Di antara relung matamu Antara kamu dan musim Selalu berseteru pada muara kemarau Yang kadang nanar Di tubuh waktu Dan berakar di nadimu Antara kamu dan puisi Selalu lahir rindu Dari rahim kata Yang diam dan...

Jalan Setapak antara Kasta dan Harta

Hidup dalam sebuah “antara” adalah pilihan pelik yang tidak pernah menjadi sebuah pilihan bagi siapa pun. Namun, nasib terkadang memaksanya untuk menghendaki pilihan itu meski dalam dirinya tidak ada rasa atau kehendak untuk memilihnya....

Ranggon Sastra: Antara Puisi dan Malam yang Senyap

Selama satu tahun (2016) Malam Puisi Komunitas Ranggon Sastra yang pernah menjadi rumah bagi puisi dan tempat mencari tumpukan kata yang berserakan bagi anggota Komunitas Ranggon Sastra (anggora) tidak pernah mengeluarkan laungannya. Entah karena...

Balada Ibu

Sesederhana matahari Ia menjadi muara dan lumbung rindu Puisi selalu pulang pada wajahnya Mengendap pada kedip matanya Yang penuh doa Dan selalu teduh Ia senantiasa menjadi laut Bagi luka dan rindu Yang sengaja kuemban Ibu, Adalah waktu yang menyamar puisi Adalah rindu yang menyembunyikan bulan Di...

Anatomi Pagi

Aku terbagun Dari tubuh yang mengakar Pada matahari yang binar Dan embun yang sumbang Sementara angin sengau Membawa rerenting beterbangan Ke lembah kata Yang berbisik pada waktu Aku terbangun Dari pualam rasa Ia menimang tubuh pagi Dan mengembuskannya Pada remah nadiku Pada pagi pias itu Aku terbangun Dari kata-kata...

Ada Tangis yang Selalu Kita Rindu

Ada saatnya ketika cinta tidak lagi menjadi inti dari sebuah rindu dan kerinduan dalam sebuah keluarga. Tetapi, wajah mungil yang selalu menjadi bayang-bayang rindu dalam setiap doa dan asa. Sebuah tangis dan tangisan terkadang...

Dialog Hujan dan Teater pada Pembukaan Festival Teater Jakarta 2016

Sejak sore jelang malam, langit begitu teduh dan sedikit gelisah oleh matahari yang sendu. Gemuruh suara bergema dari penjuru waktu. Suara-suara sengau pun menjelma nyanyian menyambut malam. Sejenak temaram menjadi ruang di antara trotoar...