Judul : Perempuan Bernama Arjuna 3 (javanologi dalam fiksi)
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, 2015
Tebal : 308
ISBN : 978-602-350-006-2

Arjuna adalah salah satu nama dalam dunia wayang yang lahir dari seorang ibu yang bernama Kunti dan Pandu yang kemudian disebut keluarga Pandawa. Mendengar nama Arjuna, yang terbersit dalam benak kita adalah seorang lelaki gagah, tampan, dan pandai memanah. Termasuk memanah hati perempuan.
Berbeda dengan Remy Sylado yang mengubah dan menjadikan Arjuna sebagai seorang perempuan yang cerdas, pintar, kritis, dan hitam manis di dalam novelnya. Arjuna yang sudah berubah menjadi perempuan dalam novel tersebut lahir dari seorang intelek yang juga seniman di salah satu daerah Jawa Tengah. Ia adalah seorang mahasiswa di negara yang selalu digambarkan dengan rambut putih oleh sebagian orang di Indonesia, yaitu Belanda.
Perjalanan Arjuna perempuan pun tidak hanya menghasilkan imaji dan ilmu, tetapi juga mendapatkan seorang lelaki gagah yang usianya separuh dan seperempat lebih tua darinya. Awalnya ia sebagai salah satu dosennya kemudian menjadi pacar, lalu ke ranjang dan kemudian menjadi suami, yaitu Jean-Claude van Damme.
Pada novel “Perempuan Bernama Arjuna 3” ini, Remy Sylado membawa pembaca membaca dan mengetahui sedikit banyak dan banyak sedikit mengenai sejarah Jawa yang disajikan dalam bentuk diskusi yang elegan dan vulgar. Dihadirkannya tokoh-tokoh baru dalam novel ini yang tidak terdapat pada novel sebelumnya menjadi warna dan narasumber yang memberi pengetahuan mengenai sejarah tanah Jawa sejak kejayaan Majapahit sampai Mataram.
Tema yang disajikan dalam novel ketiga ini adalah javanologi dalam fiksi. Mulai bab pertama sampai selesai banyak sekali pemaparan sejarah perjalanan tanah jawa yang (sekali lagi) disajikan dalam diskusi yang sangat menarik. Hanya saja ada beberapa bahasa yang bukan bahasa Indonesia tidak diikuti dengan artinya karena akan sangat mungkin ada pembaca yang kurang atau sama sekali tidak bisa memahaminya.
Javanologi dalam fiksi tidak hanya menyajikan unsur sejarah saja, tetapi juga ada beberapa alur yang sengaja dikhususkan untuk pembaca di atas 18 tahun. Hal itu terdapat juga pada sampul novel yang bertuliskan 18+. Bukan hanya menarik tetapi juga menggelitik karena adegan dan bahasa yang disajikan teramat vulgar dan tidak porno. Ini menjadi salah satu khas dan kekhasan seorang Remy Sylado ketika menyajikan alur yang memang ditujukan untuk usia di atas delapan belas tahun.
Satu hal yang selalu penulis sampaikan baik di dalam tulisan maupun ketika menjadi pembicara di dalam seminar dan semacamnya, yaitu ajakan untuk membaca. Di dalam novel ini ada satu kalimat yang bertujuan sama, yaitu “Bahwa hanya manusia beradab saja yang sanggup membaca.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here