Ada saatnya ketika cinta tidak lagi menjadi inti dari sebuah rindu dan kerinduan dalam sebuah keluarga. Tetapi, wajah mungil yang selalu menjadi bayang-bayang rindu dalam setiap doa dan asa. Sebuah tangis dan tangisan terkadang menjadi lagu yang tak pernah habis liriknya. Ia menderu bagai angin senja. Membawa resah pada setitik malam yang bisu.

Ketika tangis selalu menjadi mimpi. Selalu menjadi ruang dalam sebuah keluarga yang tak pernah berhenti merindukan tangisan itu. Maka tak heran jika tangis dan tangisan selalu menjadi lagu rindu yang seakan datang dari surga.

Adakah yang tak ingin dan menginginkan tangis itu pecah bagai kepingan doa pada tengah malam. Adakah yang tak ingin mendengar tangisan sendu itu pada pagi saat matahari menenuntaskan gamangnya pada fajar. Adakah tangisan itu ada dan akan selalu ada? Siapa yang menangis, siapa yang ditangisi dan siapa yang menunggu tangisan itu?

img20161126133121Adalah Haniva (Wulan), seorang perempuan yang selalu menanam benih rindu pada kepingan air mata yang tak lagi mengering. Ia selalu menunggu bibit itu tumbuh menjadi sebuah tangis yang menimbun matahari dalam genggam tangannya. Namun, tangis itu tak kunjung datang. Ia seakan hujan yang hanya berjanji turun di tengah sahara yang kering. Tangis itu hanya suara dalam mimpi dan impian. Ia mengadu pada dirinya sendiri yang juga menginginkan tangisan itu.

Seperti halnya suaminya, yaitu Saputra (Stevanus), ia juga menanam nanar di matanya. Menunggu sebuah tangis yang menurutnya lebih indah dari jenis lagu manapun. Ia berdialog dengan dirinya, bertanya tentang tangisan yang selalu ia tunggu. Namun tak kunjung juga datang.

Sebuah persoalan tangis yang seakan lebih dahsyat dari persoalan cinta begitu lembut mengalir dalam sebuah keluarga sederhana, yaitu Haniva dan Saputra. Sepasang suami istri itu begitu mendambakan tangisan yang tak lain tangisan seorang bayi mungil, yang matanya seakan menyimpan bulan pada keduanya. Mereka selalu berselisih bahkan bertengkar hanya karena sebuah tangis yang tak kunjung datang.

Pada saat persoalan tangis menjadi puncak emosi yang selalu dipendam, dua tetangga mereka (Inggrid dan Habil) mencoba memberi solusi yang menurut mereka lebih baik. Tapi bagi mereka solusi tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang tengah menjadi badai dalam perahu yang tengah mengarungi bahtera itu. Sebab, mereka yakin bahwa dengan cinta dan doa tangis itu pasti datang.

Namun, apakah tangis itu benar-benar datang? Hingga ruang itu redup, tangis itu hanya menjadi bayang-bayang. Ia hanya menjadi nyanyian yang membuat Saputra selalu marah akan nyanyian itu.

Pertengkaran seakan bumbu kecil yang sengaja mereka nyalakan hingga menjadi bara yang puncaknya adalah sebuah sandiwara kecil, tetapi berdampak besar. Haniva, membuat sandiwara baru dengan pura-pura hamil ketika ibu mertuanya meneleponnya. Hal itu membuat Saputra marah sebab, baginya hal tersebut adalah sandiwara kosong yang melibatkannya tanpa bisa memilih peran. Haniva bukan tidak punya alasan atas sandiwara itu. Ia berhak membela dirinya sebagai perempuan meskipun harus membuat sandiwara baru yang membuat suaminya marah besar.

img20161126133350Komunitas Ranggon Sastra dalam Panorama 2 (Parade Nonton Ranggon Bersama) mementaskan sebuah naskah O.E.K karya R Tono, sutradara Musalam Firman di gedung aula PGRI Jakarta (26/11) siang tadi. Pentas tersebut mengambil latar sebuah keluarga yang sudah bertahun-tahun menjalanani rumah tangga, namun belum dikaruniai seorang anak. Ruang sederhana menggambarkan kesederhanaan mereka dalam mengarungi bahtera keluarga. Hingga akhirnya, mereka merasa sepi dan kesepian tanpa kehadiran sebuah tangis yang tak lain tangis seorang bayi. Mereka pun beranggapan bahwa salah satu di antara mereka ada yang salah, tetapi tidak pernah menyadarinya. Perselisihan kecil pun terjadi dengan membandingkan mereka dengan keluarga-keluarga lain yang dengan mudahnya punya anak. Bahkan, yang belum menikah pun tetapi punya anak, tak lupa mereka bandingkan juga.

Pentas tersebut membawa penonton pada sebuah ingatan dan harapan akan sebuah tangis. Dialog yang mereka sampaikan yang kadang disampaikan dengan sebuah lirik juga membawa penonton pada orgasme mimpi pada siang itu. Suara merdu biola pun menjadi bumbu pentas tersebut.

Hingga sebuah dialog yang menjadi puncak bahtera keluarga tersebut terucap, yaitu “Bukan soal punya atau tidak punya, tapi masihkah kita saling mencinta” menjadi penuntas tangis yang tak kunjung datang itu. Ruang pun meredup perlahan menandakan pentas telah berakhir, namun tangis itu masih menjadi misteri bagi penonton yang tanpa sadar memekikkan tepukan tangannya.

Komunitas Ranggon Sastra dalam hal ini telah membuka kembali sebuah pesan yang tersirat dalam sebuah perjalanan keluarga. Keluarga yang selalu merindukan sebuha tangis, tangis seorang bayi. Bahwa, bukan soal punya atau tidak punya, tapi masihkah kita saling mencinta.

img20161126135238Banggga Hati menjadi Kami, Bangga Hati menjadi Komunitas Ranggon Sastra.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here